#pentigraf_lepas
NUANSA RUMAH KITA (40)
*Politik di Tempat Kerja
Oleh: Jenny Seputro
Setelah hampir putus asa ditolak setiap tempat yang dilamarnya, akhirnya Tari mendapat satu panggilan kerja. Dia bersyukur meskipun jenis pekerjaannya bukan seperti yang diinginkan. Tugasnya data entry, memasukkan data-data klien dari tumpukan nota ke dalam komputer. Setiap orang mempunyai jatah kuota harian. Kalau belum selesai, ya terpaksa harus lembur. Kalau selesai lebih awal, tidak boleh pulang, dipersilahkan terus kerja melampaui kuota. Pekerjaan yang memerlukan konsentrasi dan ketelitian, juga membosankan. Sebagai karyawan baru, Tari tidak begitu diterima baik oleh rekan-rekan seniornya. Ada yang bilang pakaiannya ke kantor mirip orang pergi ke pasar. Terpaksa dengan tabungannya yang sedikit, Tari membeli beberapa pakaian yang lebih modis.
Alih-alih dipuji, rekan-rekan prianya bersuit-suit menggodanya. Yang perempuan banyak yang menuduh Tari sengaja mencari perhatian bos yang notabene seorang duda. Kalau tekanan dari teman kerja belum cukup, Tari yang belum terbiasa dengan pekerjaannya selalu tertinggal dalam target hariannya. Terpaksa setiap sore dia harus lembur sampai hampir dua jam. Tubuhnya lelah dan matanya berkunang-kunang. Namun dengan gigih ia terus belajar, hingga dalam sebulan Tari sudah bisa menyelesaikan targetnya dalam waktu yang ditentukan. Dua minggu kemudian Tari sudah berhasil menyelesaikan dua puluh persen lebih banyak dari target harian. Dia bangga dengan prestasinya sendiri. Bos juga sangat terkesan dengan kinerja Tari.
Rekan-rekannya menjadi iri karena Tari makin diperhatikan atasan. Belum lagi ada kemungkinan target harian akan dinaikkan berhubung Tari sanggup menyelesaikan begitu banyak. Sering kali Tari difitnah atau dijadikan kambing hitam. Kalau Tari melapor, dia dianggap cari muka. Tari betul-betul tidak suka bekerja di situ. Pekerjaannya membuat mata sakit. Teman-temannya membuat hati sakit. "Bagaimana harimu Sayang?" tanya Mas Hen setiap sore saat menyambut Tari pulang. Tari selalu tersenyum, dan bilang betapa dia menikmati hari itu. Suaminya terlihat tenang dan gembira. Tari masuk ke dalam kamar sambil menimang-nimang slip gajinya. Saat ini Mas Hen tidak bisa bekerja. Dapur harus tetap mengebul. Biarlah orang mau bilang apa. Anjing menggonggong, khafilah berlalu. Yang penting pekerjaannya halal, dan ia telah melakukan yang terbaik.
Perth, 23 Agustus 2018
#nuansarumahkita
Penulis yang sudah berpartisipasi
Agust Wahyu, Merry Srifatmadewi, Albertha Tirta, Camelia Septiyati Koto, Ypb Wiratmoko, Jenny Seputro, Yosep Yuniarto, Siu Hong-Irene Tan, Stella Christiani Ekaputri Widjaja, Waty Sumiati Halim, Maria Miguel, Sylvie Trenggono, Budi Hantara
Catatan:
- Pentigraf atau penagraf ini merupakan cerita lepas judul "NUANSA RUMAH KITA" yang menghadirkan tokoh utama wanita sederhana dengan hati yang cantik bernama Tari, lengkapnya Lestari Ayu Ningtyas.
- Siapa saja boleh menyumbangkan tulisan di sini, tentunya dengan pesan-pesan positif yang menyejukkan.
- Pentigraf atau penagraf dapat dikemas dengan sedih, humor, dan sebagainya.
-Bagi yang beminat dapat dikirim lewat inboks ke Agust Wahyu jangan lupa paling bawah tulis #nuansarumahkita
- Bagi Anda yang ingin membaca lengkap pentigraf atau penagraf lepas ini dapat dilihat di https://anggrek-white.blogspot.com/
Salam Literasi
Jumat, 24 Agustus 2018
Senin, 20 Agustus 2018
NUANSA RUMAH KITA (39)
#pentigraf_lepas
NUANSA RUMAH KITA (39)
*Untung
Oleh Merry Srifatmadewi
Selama ini Tari dikenal sebagai pribadi yang suka menolong sesama. Saat ini sedang membantu di Rumah Duka dimana suami temannya meninggal dunia secara mendadak tanpa riwayat penyakit sebelumnya dan tidak ada anggota keluarganya yang membantu. Teman-teman sekolah semasa SMP menggalang dana membantu untuk Thea, temannya Tari yang 'kehilangan' suami. Ada yang menyumbang makanan, kue, bunga papan, ada yang datang langsung dan memberikan amplop berisi uang, ada juga yang menitip karena punya kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan. Berhubung teman-temannya tahu bahwa Tari berada di Rumah Duka sepanjang hari, sebagian menitipkan ke Tari via transfer melalui ATM atau m-banking walau tidak langsung ditransfer saat itu. Tari sudah mempersiapkan uang tunai dana cadangan di tangan dan satu-persatu Tari memasukkan uang sesuai dengan jumlah yang temannya ingin sumbangkan.
Jumlah uang sumbangan sebelum dimasukkan ke amplop difoto, begitu juga nomor urut di buku yang bertuliskan nama penyumbang juga difoto sebagai bukti tanggung-jawab Tari kepada teman-temannya. Lalu Tari mengirim foto tersebut ke whatsapp penyumbang dan mengucapkan terima kasih mewakili Thea. Sungguh berat kepercayaan dan tanggung-jawab Tari bila dimintai tolong demikian. Kadang ada rasa takut di hati bila suatu hari ada omongan atau pandangan negatif walau Tari sudah berbuat jujur. Untuk menghindarkan hal negatif di kemudian hari, makanya Tari mengambil langkah-langkah pembuktian. Apapun yang dilakukan, Tari serahkan kepada Tuhan dengan rasa takut dan hormat. Hanya Tari dan Tuhan yang tahu isi kedalaman hatinya.
Ada satu teman yang titip sumbangan Rp 10 juta. Tidak enak kalau tidak dituruti. Bersyukur ada yang peduli mau menyumbang cukup besar. Tari berinisiatif minta ke temannya untuk transfer uang lebih dulu karena uang di tangan tidak mencapai sebanyak itu dan Tari harus pergi ke Anjungan Tunai Mandiri mengambil uang tunai. Sempat terlintas oleh Tari bagaimana kalau temannya lupa transfer dan Tari sangat sungkan bila harus menegur. Bersyukur temannya mau transfer terlebih dahulu. Bukti transferan dikirim melalui whatsapp Tari. Kini Tari bingung dibacanya berulang, uang yang ditransfer Rp 1 juta saja dan bukan Rp 10 juta? Tari memberanikan diri bertanya daripada salah. Ternyata yang benar adalah Rp 1 juta sesuai uang yang ditransfer bukan seperti waktu dimintai tolong, kesalahan ketik kepencet kelebihan angka nol. Untung...untung.....batin Tari dalam hati.
Jakarta, 16 Agustus 2018.
#pentigrafSF
#nuansarumahkita
Penulis yang sudah berpartisipasi
Agust Wahyu, Merry Srifatmadewi, Albertha Tirta, Camelia Septiyati Koto, Ypb Wiratmoko, Jenny Seputro, Yosep Yuniarto, Siu Hong-Irene Tan, Stella Christiani Ekaputri Widjaja, Waty Sumiati Halim, Maria Miguel, Sylvie Trenggono, Budi Hantara
Catatan:
- Pentigraf atau penagraf ini merupakan cerita lepas judul "NUANSA RUMAH KITA" yang menghadirkan tokoh utama wanita sederhana dengan hati yang cantik bernama Tari, lengkapnya Lestari Ayu Ningtyas.
- Siapa saja boleh menyumbangkan tulisan di sini, tentunya dengan pesan-pesan positif yang menyejukkan.
- Pentigraf atau penagraf dapat dikemas dengan sedih, humor, dan sebagainya.
-Bagi yang beminat dapat dikirim lewat inboks ke Agust Wahyu jangan lupa paling bawah tulis #nuansarumahkita
- Bagi Anda yang ingin membaca lengkap pentigraf atau penagraf lepas ini dapat dilihat di https://anggrek-white.blogspot.com/
Salam Literasi
NUANSA RUMAH KITA (39)
*Untung
Oleh Merry Srifatmadewi
Selama ini Tari dikenal sebagai pribadi yang suka menolong sesama. Saat ini sedang membantu di Rumah Duka dimana suami temannya meninggal dunia secara mendadak tanpa riwayat penyakit sebelumnya dan tidak ada anggota keluarganya yang membantu. Teman-teman sekolah semasa SMP menggalang dana membantu untuk Thea, temannya Tari yang 'kehilangan' suami. Ada yang menyumbang makanan, kue, bunga papan, ada yang datang langsung dan memberikan amplop berisi uang, ada juga yang menitip karena punya kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan. Berhubung teman-temannya tahu bahwa Tari berada di Rumah Duka sepanjang hari, sebagian menitipkan ke Tari via transfer melalui ATM atau m-banking walau tidak langsung ditransfer saat itu. Tari sudah mempersiapkan uang tunai dana cadangan di tangan dan satu-persatu Tari memasukkan uang sesuai dengan jumlah yang temannya ingin sumbangkan.
Jumlah uang sumbangan sebelum dimasukkan ke amplop difoto, begitu juga nomor urut di buku yang bertuliskan nama penyumbang juga difoto sebagai bukti tanggung-jawab Tari kepada teman-temannya. Lalu Tari mengirim foto tersebut ke whatsapp penyumbang dan mengucapkan terima kasih mewakili Thea. Sungguh berat kepercayaan dan tanggung-jawab Tari bila dimintai tolong demikian. Kadang ada rasa takut di hati bila suatu hari ada omongan atau pandangan negatif walau Tari sudah berbuat jujur. Untuk menghindarkan hal negatif di kemudian hari, makanya Tari mengambil langkah-langkah pembuktian. Apapun yang dilakukan, Tari serahkan kepada Tuhan dengan rasa takut dan hormat. Hanya Tari dan Tuhan yang tahu isi kedalaman hatinya.
Ada satu teman yang titip sumbangan Rp 10 juta. Tidak enak kalau tidak dituruti. Bersyukur ada yang peduli mau menyumbang cukup besar. Tari berinisiatif minta ke temannya untuk transfer uang lebih dulu karena uang di tangan tidak mencapai sebanyak itu dan Tari harus pergi ke Anjungan Tunai Mandiri mengambil uang tunai. Sempat terlintas oleh Tari bagaimana kalau temannya lupa transfer dan Tari sangat sungkan bila harus menegur. Bersyukur temannya mau transfer terlebih dahulu. Bukti transferan dikirim melalui whatsapp Tari. Kini Tari bingung dibacanya berulang, uang yang ditransfer Rp 1 juta saja dan bukan Rp 10 juta? Tari memberanikan diri bertanya daripada salah. Ternyata yang benar adalah Rp 1 juta sesuai uang yang ditransfer bukan seperti waktu dimintai tolong, kesalahan ketik kepencet kelebihan angka nol. Untung...untung.....batin Tari dalam hati.
Jakarta, 16 Agustus 2018.
#pentigrafSF
#nuansarumahkita
Penulis yang sudah berpartisipasi
Agust Wahyu, Merry Srifatmadewi, Albertha Tirta, Camelia Septiyati Koto, Ypb Wiratmoko, Jenny Seputro, Yosep Yuniarto, Siu Hong-Irene Tan, Stella Christiani Ekaputri Widjaja, Waty Sumiati Halim, Maria Miguel, Sylvie Trenggono, Budi Hantara
Catatan:
- Pentigraf atau penagraf ini merupakan cerita lepas judul "NUANSA RUMAH KITA" yang menghadirkan tokoh utama wanita sederhana dengan hati yang cantik bernama Tari, lengkapnya Lestari Ayu Ningtyas.
- Siapa saja boleh menyumbangkan tulisan di sini, tentunya dengan pesan-pesan positif yang menyejukkan.
- Pentigraf atau penagraf dapat dikemas dengan sedih, humor, dan sebagainya.
-Bagi yang beminat dapat dikirim lewat inboks ke Agust Wahyu jangan lupa paling bawah tulis #nuansarumahkita
- Bagi Anda yang ingin membaca lengkap pentigraf atau penagraf lepas ini dapat dilihat di https://anggrek-white.blogspot.com/
Salam Literasi
NUANSA RUMAH KITA (38)

NUANSA RUMAH KITA (38)
*Bendera
Oleh Sylvie Trenggono
Angin senja bertiup sepoi-sepoi. Keindahan senja membuat Tari terdiam sambil menyeruput teh hangat. Batin gadis remaja yang terpaksa berhenti sekolah itu galau. Ia ingin melanjutkan sekolah tetapi tidak tahu caranya. Tiba-tiba bendera yang dipasang di pagar rumahnya bergerak. Dengan cepat kain merah putih itu melambai-lambai. Mata Tari sontak tertuju pada bendera tersebut. Ini bukan karena angin, batin Tari. Dengan konsentrasi penuh Tari memperhatikan kain merah putih itu yang mendadak jadi kaku. Di depan Tari terhampar pemandangan masa lalu. Tari bagai melihat adegan-adegan film melalui layar merah putih itu. Dengan terbelalak takjub ia melihat bagaimana para pemuda melakukan rapat untuk menetapkan waktu Indonesia merdeka. Mata Tari terpancang pada seorang pemuda ganteng penuh wibawa yang dengan semangat mengobarkan api di dada para pemuda itu.
Adegan beralih pada seorang perempuan yang sibuk menjahit. Tangannya yang halus dengan hati-hati menjaga jahitan agar kain merah dan putih itu menjadi satu. Wajahnya yang cantik begitu serius. Setelah kain itu selesai dijahit, pemuda tampan beserta beberapa temannya membawa ke tempat rahasia. Mereka menunggu detik-detik bendera itu dikibarkan. Esoknya, bendera itu dikibarkan bersama maklumat bahwa Indonesia dinyatakan merdeka. Tepuk tangan rakyat bergema mengiringi dinaikkannya bendera itu.
Perlahan-lahan suara tepuk tangan menghilang. Gambar pemuda ganteng, perempuan cantik dan pemuda-pemudi bersemangat lain menghablur. Bendera yang kaku itu kembali menjadi kain merah putih yang bergoyang pelan ditimpa angin sore. Sore tanggal 16 Agustus itu dicatat Tari sebagai sore yang menjadi titik balik hidupnya. Saat itu dia diberi beasiswa atas prestasinya sehingga dapat melanjutkan sskolah. Ternyata prestasinya sebagai atlet cabang atletik diapresiasi.
Pesanggrahan, 16/8/18
#nuansarumahkita
Penulis yang sudah berpartisipasi
Agust Wahyu, Merry Srifatmadewi, Albertha Tirta, Camelia Septiyati Koto, Ypb Wiratmoko, Jenny Seputro, Yosep Yuniarto, Siu Hong-Irene Tan, Stella Christiani Ekaputri Widjaja, Waty Sumiati Halim, Maria Miguel, Sylvie Trenggono, Budi Hantara
Catatan:
- Pentigraf atau penagraf ini merupakan cerita lepas judul "NUANSA RUMAH KITA" yang menghadirkan tokoh utama wanita sederhana dengan hati yang cantik bernama Tari, lengkapnya Lestari Ayu Ningtyas.
- Siapa saja boleh menyumbangkan tulisan di sini, tentunya dengan pesan-pesan positif yang menyejukkan.
- Pentigraf atau penagraf dapat dikemas dengan sedih, humor, dan sebagainya.
-Bagi yang beminat dapat dikirim lewat inboks ke Agust Wahyu jangan lupa paling bawah tulis #nuansarumahkita
- Bagi Anda yang ingin membaca lengkap pentigraf atau penagraf lepas ini dapat dilihat di https://anggrek-white.blogspot.com/
Salam Literasi
NUANSA RUMAH KITA (37)
#pentigraf_lepas
NUANSA RUMAH KITA (37)
* Bapak Penjual Bendera
Oleh : Camelia Septiyati K
Hari masih pagi saat Tari menyirami bunga-bunga kesayangannya, dan ia melihat seorang bapak sedang menarik gerobak berisi bendera dan lengkap dengan bambu-bambunya. Tari iba melihat bapak tersebut karena ia teringat akan almarhum bapak yang sudah pergi satu hari setelah hari kemerdekaan tepat 8 tahun lalu. Dan tanpa sadar Tari sempat meneteskan air matanya, cepat-cepat Tari menghapusnya karena takut mas Hen suaminya melihat. Tari teringat kalau bapak suka berkata usia bukan penghalang untuk kita mencari nafkah kalau kaki, tangan dan tubuh ini masih mampu kita harus tetap bekerja. Tari berpikir jam berapa bapak penjual bendera itu berangkat sepagi ini saja sudah ada di depan rumahnya. Setelah selesai menyiram bunga-bunga kesayangannya Tari masuk untuk melanjutkan pekerjaan yang lain, memasak makan siang untuk Mas Hen.
Siang hari saat Tari menyiapkan makan siang untuknya dan Mas Hen, Tari mengintip lewat jendela apakah Bapak itu masih ada disana, dan tanpa ia sadari Mas Hen sudah ada di belakangnya. Dan Mas Hen menanyakan apa yang Tari lakukan, Tari hanya tersenyum dan mengajak Mas Hen makan. Tari sudah memasak masakan kesukaan Mas Hen sayur lodeh, tempe bacem dan ayam goreng. Saat menikmati makan siangnya Tari teringat akan bapak penjual bendera tadi, apakah bapak itu sudah makan siang atau belum. Dan Tari berencana untuk memberi seporsi makan siang untuk bapak tersebut, kebetulan juga Tari masak banyak. Pak Tarno asisten Mas Hen tidak ikut makan siang bersama karena ia sedang berpuasa hari ini.
Tari merapikan makan siangnya, dan ia membungkus seporsi makanan untuk bapak penjual bendera tersebut. Nasi, sayur lodeh, tempe bacem dan ayam goreng, Tari membungkusnya dengan tempat makan yg memang jarang digunakan juga 1 buah sendok, tidak lupa juga sebotol air minum. Takut-takut kalau si bapak tidak membawa air minum. Dengan berbasa-basi Tari membeli 1 buah bendera merah putih, "Loh kok beli bendera Neng, kan sudah ada. Tuh sudah dipasang." Sambil menunjuk bendera yang terpasang di depan rumah Tari. Dan Tari pun memberi alasan kepada bapak penjual bendera kalau bendera yang ia beli, mau ia berikan kepada ibunya. Tari takut kalau bapak tersebut merasa Tari menaruh belas kasihan padanya, sudah memberi makan siang membeli bendera juga. Jelas-jelas ia sudah memasang bendera di depan rumahnya.
Bekasi/ 160818
NUANSA RUMAH KITA (37)
* Bapak Penjual Bendera
Oleh : Camelia Septiyati K
Hari masih pagi saat Tari menyirami bunga-bunga kesayangannya, dan ia melihat seorang bapak sedang menarik gerobak berisi bendera dan lengkap dengan bambu-bambunya. Tari iba melihat bapak tersebut karena ia teringat akan almarhum bapak yang sudah pergi satu hari setelah hari kemerdekaan tepat 8 tahun lalu. Dan tanpa sadar Tari sempat meneteskan air matanya, cepat-cepat Tari menghapusnya karena takut mas Hen suaminya melihat. Tari teringat kalau bapak suka berkata usia bukan penghalang untuk kita mencari nafkah kalau kaki, tangan dan tubuh ini masih mampu kita harus tetap bekerja. Tari berpikir jam berapa bapak penjual bendera itu berangkat sepagi ini saja sudah ada di depan rumahnya. Setelah selesai menyiram bunga-bunga kesayangannya Tari masuk untuk melanjutkan pekerjaan yang lain, memasak makan siang untuk Mas Hen.
Siang hari saat Tari menyiapkan makan siang untuknya dan Mas Hen, Tari mengintip lewat jendela apakah Bapak itu masih ada disana, dan tanpa ia sadari Mas Hen sudah ada di belakangnya. Dan Mas Hen menanyakan apa yang Tari lakukan, Tari hanya tersenyum dan mengajak Mas Hen makan. Tari sudah memasak masakan kesukaan Mas Hen sayur lodeh, tempe bacem dan ayam goreng. Saat menikmati makan siangnya Tari teringat akan bapak penjual bendera tadi, apakah bapak itu sudah makan siang atau belum. Dan Tari berencana untuk memberi seporsi makan siang untuk bapak tersebut, kebetulan juga Tari masak banyak. Pak Tarno asisten Mas Hen tidak ikut makan siang bersama karena ia sedang berpuasa hari ini.
Tari merapikan makan siangnya, dan ia membungkus seporsi makanan untuk bapak penjual bendera tersebut. Nasi, sayur lodeh, tempe bacem dan ayam goreng, Tari membungkusnya dengan tempat makan yg memang jarang digunakan juga 1 buah sendok, tidak lupa juga sebotol air minum. Takut-takut kalau si bapak tidak membawa air minum. Dengan berbasa-basi Tari membeli 1 buah bendera merah putih, "Loh kok beli bendera Neng, kan sudah ada. Tuh sudah dipasang." Sambil menunjuk bendera yang terpasang di depan rumah Tari. Dan Tari pun memberi alasan kepada bapak penjual bendera kalau bendera yang ia beli, mau ia berikan kepada ibunya. Tari takut kalau bapak tersebut merasa Tari menaruh belas kasihan padanya, sudah memberi makan siang membeli bendera juga. Jelas-jelas ia sudah memasang bendera di depan rumahnya.
Bekasi/ 160818
Kamis, 16 Agustus 2018
NUANSA RUMAH KITA (36)
#penagraf_lepas
NUANSA RUMAH KITA (36)
*Malam Jumat Kliwon
Oleh Agust Wahyu
Tari berusaha memejamkan matanya walau jarum pendek pada jam dinding kamar baru mendekat pada angka 9. Dia tak ingin merasakan kesepian malam yang terlahir tanpa kehadiran Nadya. Nadya sedang kemah bersama dua hari satu malam pada acara sekolahnya, sebagai penutupan MPLS, masa perkenalan lingkungan sekolah, bagi siswa kelas X. Walau seminggu terakhir membantu Nadya mempersiapkan segala kebutuhan yang akan dibawa, tapi Tari tak sedikitpun bertanya tentang aktivitas yang akan dilakukan di sana. Dan saatnya nanti Nadya pulang, dia juga tak tanya apapun kecuali puteri cantiknya cerita. "Hati-hati sayang. Mama percaya kamu bisa jaga diri," hanya itu pesannya saay Nadya akan berangkat.
Baginya cerita mengenai MPLS membuka luka lama hatinya, tentang cinta pertamanya yang harus sirna karena Tuhan mengambilnya lebih cepat. Cukup lama Tari tak mampu melupakan kepedihan hatinya. Selama SMA dia menutup rapat hatinya, padahal banyak surat cinta yang mengisi laci meja belajar di kamarnya. Tak heran temen-temen cowoknya menjulukinya "Lady Cool". Tari makin membentengi diri saat POSMA, Pekan Orientasi Mahasiswa, yang harus diikuti sebagai mahasiswa baru. Sejak hari pertama acara dia sudah membatasi diri dengan menjaga jarak dengan kakak-kakak kelasnya. Dia berusaha mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dengan baik. Dengan demikian dia tak akan banyak berhubungan dengan kakak kelas yang berpotensi terjadi hubungan lebih lanjut. Dan penyesalan terjadi justru saat penutupan POSMA, pada saat acara kemah di Gunung Gede.
Malam makin tinggi. Hembusan angin kemarau tiba-tiba berasa basah. Dari jauh terdengar lolongan anjing yang merintih bagai suara serigala. Tari tak berani mematikan lampu kamarnya. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada kalender di kamarnya. Hari Kamis Wage yang artinya malam ini adalah Malam Jumat Kliwon. Tiba-tiba bulu-bulu di tangannya berdiri terlebih di kuduknya. Ditariknya selimut menutupi wajahnya, lalu bantal ditekan ke telinganya , dan mata dirapatkan. Padahal dia bukan orang yang penakut, terutama dengan yang namanya hantu atau kuntilanak. Baginya semua itu hanya khayalan karena belum pernah melihat penampakannya. Tak mengherankan bila pada saat Sesi Jurit Malam di kemah penutupannya, dikenal sebagai mahasiswi pemberani.
“Mama… Nadya berani lho!” Nadya masih dengan pakaian penuh lumpur sehabis jurit malam langsung cerita dengan Tari, mamanya tercinta. Dia cerita bagaimana dia berjalan bersama empat teman lainnya yang semuanya puteri. Hawa semakin dingin dan semakin sunyi saat putaran akhir. Saat mulai berjalan lagi, dia merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Saat dia melihat ke belakang, tidak ada orang lain kecuali teman-temannya, hanya kegelapan. Tiba-tiba teman-temannya panik. Nadya merasa ada angin berhembus kencang melewatinya. Sampai tiba-tiba dia melihat di ujung gelap itu seperti ada makhluk putih berpocong yang bergelantungan di pohon, di pinggir jalan yang akan mereka lewati. Entah apa yang membuatnya reflek. Diambilnya batu yang cukup besar yang ada di dekatnya lalu dilemparnya pocong itu dengan sekuat tenaga. “Dan… dia jatuh, Ma!”
Tari tergagap dan terbagun. Napasnya tak beraturan. Detak jantungnya terpacu lebih cepat. Tak ada Nadya di sampingnya. Baru jam 2 pagi. Dia mimpi! Rasa ketakutan kembali menyergapnya. Dia ingat, sebelum tidur lupa berdoa. Walau masih ada rasa takut, dipaksanya bangun dan meneguk air putih. Lalu dia berdoa hingga sesak di dadanya berkurang. Tari merasa heran kenapa dia mimpi seperti itu. Dia tahu bila Nadya banyak mewarisi sifat-sifatnya, termasuk sifatnya yang berani, tetapi yang melempar pocong dengan batu itu adalah dirinya. “Itu aku! Bukan Nadya,” bantahnya dengan keras walau hanya dalam hati. Ya, Tari tak mungkin bisa melupakannya. Pocong itu ternyata kakak kelasnya, dua tahun di atasnya. Dia jatuh terduduk dari tempat yang cukup tinggi sehingga ada tulangnya yang patah dan membuatnya tergantung kursi roda seumur sisa hidupnya. Tari merasa sangat bersalah. Entah karena iba atau cinta, kalau akhirnya Tari tak mampu menolak lamarannya. Dia adalah Mas Hen, suaminya, sekaligus papanya Nadya, lengkapnya Nadya Frederika Dewanti .
Halim, 11 Agustus 2018
#nuansarumahkita
Penulis yang sudah berpartisipasi
Agust Wahyu, Merry Srifatmadewi, Albertha Tirta, Camelia Septiyati Koto, Ypb Wiratmoko, Jenny Seputro, Yosep Yuniarto, Siu Hong-Irene Tan, Stella Christiani Ekaputri Widjaja, Waty Sumiati Halim, Maria Miguel, Sylvie Trenggono, Budi Hantara
Catatan:
- Pentigraf atau penagraf ini merupakan cerita lepas judul "NUANSA RUMAH KITA" yang menghadirkan tokoh utama wanita sederhana dengan hati yang cantik bernama Tari, lengkapnya Lestari Ayu Ningtyas.
- Siapa saja boleh menyumbangkan tulisan di sini, tentunya dengan pesan-pesan positif yang menyejukkan.
- Pentigraf atau penagraf dapat dikemas dengan sedih, humor, dan sebagainya.
-Bagi yang beminat dapat dikirim lewat inboks ke Agust Wahyu jangan lupa paling bawah tulis #nuansarumahkita
- Bagi Anda yang ingin membaca lengkap pentigraf atau penagraf lepas ini dapat dilihat di https://anggrek-white.blogspot.com/
Salam Literasik
NUANSA RUMAH KITA (36)
*Malam Jumat Kliwon
Oleh Agust Wahyu
Tari berusaha memejamkan matanya walau jarum pendek pada jam dinding kamar baru mendekat pada angka 9. Dia tak ingin merasakan kesepian malam yang terlahir tanpa kehadiran Nadya. Nadya sedang kemah bersama dua hari satu malam pada acara sekolahnya, sebagai penutupan MPLS, masa perkenalan lingkungan sekolah, bagi siswa kelas X. Walau seminggu terakhir membantu Nadya mempersiapkan segala kebutuhan yang akan dibawa, tapi Tari tak sedikitpun bertanya tentang aktivitas yang akan dilakukan di sana. Dan saatnya nanti Nadya pulang, dia juga tak tanya apapun kecuali puteri cantiknya cerita. "Hati-hati sayang. Mama percaya kamu bisa jaga diri," hanya itu pesannya saay Nadya akan berangkat.
Baginya cerita mengenai MPLS membuka luka lama hatinya, tentang cinta pertamanya yang harus sirna karena Tuhan mengambilnya lebih cepat. Cukup lama Tari tak mampu melupakan kepedihan hatinya. Selama SMA dia menutup rapat hatinya, padahal banyak surat cinta yang mengisi laci meja belajar di kamarnya. Tak heran temen-temen cowoknya menjulukinya "Lady Cool". Tari makin membentengi diri saat POSMA, Pekan Orientasi Mahasiswa, yang harus diikuti sebagai mahasiswa baru. Sejak hari pertama acara dia sudah membatasi diri dengan menjaga jarak dengan kakak-kakak kelasnya. Dia berusaha mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dengan baik. Dengan demikian dia tak akan banyak berhubungan dengan kakak kelas yang berpotensi terjadi hubungan lebih lanjut. Dan penyesalan terjadi justru saat penutupan POSMA, pada saat acara kemah di Gunung Gede.
Malam makin tinggi. Hembusan angin kemarau tiba-tiba berasa basah. Dari jauh terdengar lolongan anjing yang merintih bagai suara serigala. Tari tak berani mematikan lampu kamarnya. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada kalender di kamarnya. Hari Kamis Wage yang artinya malam ini adalah Malam Jumat Kliwon. Tiba-tiba bulu-bulu di tangannya berdiri terlebih di kuduknya. Ditariknya selimut menutupi wajahnya, lalu bantal ditekan ke telinganya , dan mata dirapatkan. Padahal dia bukan orang yang penakut, terutama dengan yang namanya hantu atau kuntilanak. Baginya semua itu hanya khayalan karena belum pernah melihat penampakannya. Tak mengherankan bila pada saat Sesi Jurit Malam di kemah penutupannya, dikenal sebagai mahasiswi pemberani.
“Mama… Nadya berani lho!” Nadya masih dengan pakaian penuh lumpur sehabis jurit malam langsung cerita dengan Tari, mamanya tercinta. Dia cerita bagaimana dia berjalan bersama empat teman lainnya yang semuanya puteri. Hawa semakin dingin dan semakin sunyi saat putaran akhir. Saat mulai berjalan lagi, dia merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Saat dia melihat ke belakang, tidak ada orang lain kecuali teman-temannya, hanya kegelapan. Tiba-tiba teman-temannya panik. Nadya merasa ada angin berhembus kencang melewatinya. Sampai tiba-tiba dia melihat di ujung gelap itu seperti ada makhluk putih berpocong yang bergelantungan di pohon, di pinggir jalan yang akan mereka lewati. Entah apa yang membuatnya reflek. Diambilnya batu yang cukup besar yang ada di dekatnya lalu dilemparnya pocong itu dengan sekuat tenaga. “Dan… dia jatuh, Ma!”
Tari tergagap dan terbagun. Napasnya tak beraturan. Detak jantungnya terpacu lebih cepat. Tak ada Nadya di sampingnya. Baru jam 2 pagi. Dia mimpi! Rasa ketakutan kembali menyergapnya. Dia ingat, sebelum tidur lupa berdoa. Walau masih ada rasa takut, dipaksanya bangun dan meneguk air putih. Lalu dia berdoa hingga sesak di dadanya berkurang. Tari merasa heran kenapa dia mimpi seperti itu. Dia tahu bila Nadya banyak mewarisi sifat-sifatnya, termasuk sifatnya yang berani, tetapi yang melempar pocong dengan batu itu adalah dirinya. “Itu aku! Bukan Nadya,” bantahnya dengan keras walau hanya dalam hati. Ya, Tari tak mungkin bisa melupakannya. Pocong itu ternyata kakak kelasnya, dua tahun di atasnya. Dia jatuh terduduk dari tempat yang cukup tinggi sehingga ada tulangnya yang patah dan membuatnya tergantung kursi roda seumur sisa hidupnya. Tari merasa sangat bersalah. Entah karena iba atau cinta, kalau akhirnya Tari tak mampu menolak lamarannya. Dia adalah Mas Hen, suaminya, sekaligus papanya Nadya, lengkapnya Nadya Frederika Dewanti .
Halim, 11 Agustus 2018
#nuansarumahkita
Penulis yang sudah berpartisipasi
Agust Wahyu, Merry Srifatmadewi, Albertha Tirta, Camelia Septiyati Koto, Ypb Wiratmoko, Jenny Seputro, Yosep Yuniarto, Siu Hong-Irene Tan, Stella Christiani Ekaputri Widjaja, Waty Sumiati Halim, Maria Miguel, Sylvie Trenggono, Budi Hantara
Catatan:
- Pentigraf atau penagraf ini merupakan cerita lepas judul "NUANSA RUMAH KITA" yang menghadirkan tokoh utama wanita sederhana dengan hati yang cantik bernama Tari, lengkapnya Lestari Ayu Ningtyas.
- Siapa saja boleh menyumbangkan tulisan di sini, tentunya dengan pesan-pesan positif yang menyejukkan.
- Pentigraf atau penagraf dapat dikemas dengan sedih, humor, dan sebagainya.
-Bagi yang beminat dapat dikirim lewat inboks ke Agust Wahyu jangan lupa paling bawah tulis #nuansarumahkita
- Bagi Anda yang ingin membaca lengkap pentigraf atau penagraf lepas ini dapat dilihat di https://anggrek-white.blogspot.com/
Salam Literasik
Senin, 13 Agustus 2018
NUANSA RUMAH KITA (35)
#pentigraf_lepas
NUANSA RUMAH KITA (35)
*Antara Baik dan Waspada
Oleh: Yosep Yuniarto
Pagi itu Tari pergi berbelanja ke pasar. Dia sudah bisa mengemudikan mobil sendiri, betul-betul seorang ibu rumah tangga yang mandiri. Tari sama sekali tidak mengeluh dengan kondisi keluarga kecilnya. Mas Hen, suaminya seorang difabel dan duduk di kursi roda. Namun mereka saling menyayangi dan mendukung satu sama lain. Barang belanjaan Tari hari itu cukup banyak, sebagian untuk kebutuhan selama satu minggu. Tari pulang agak siang, dan sesampainya di rumah, terlihat lumayan banyak orang berkerumun dan juga sebuah mobil polisi. Perasaan Tari pun menjadi tidak enak, apa yang sedang terjadi di rumah mereka?
Tari bergegas keluar dari mobilnya. Bapak ketua RT setempat kemudian menghampiri Tari. Penjelasan yang diberikan membuat Tari kaget: Mas Hen dituduh memiliki narkoba dan ada barang buktinya. Tari langsung masuk ke dalam dan mendapati Mas Hen sedang terbata-bata menjawab cecaran pertanyaan dari petugas. Tari kemudian meminta waktu untuk berbicara dengan suaminya. Setelah mengetahui duduk persoalannya, Tari pun berbicara mewakili suaminya. Intinya tadi pagi Mas Hen sedang sendirian ditinggal Tari ke pasar. Tiba-tiba datanglah seorang teman Mas Hen dan kemudian menitipkan dua buah tas. Katanya nanti siang tas itu akan diambil kembali. Mas Hen tidak curiga dan mempersilahkan saja. Sekitar 30 menit kemudian rumah mereka didatangi petugas. Ternyata tas titipan tersebut berisi narkoba!
Untungnya Mas Hen sama sekali tidak menyentuh tas tersebut. Dengan tenang Tari berkata, jika tas itu punya suaminya, pasti ada sidik jarinya di sana. Dalam suasana masih cukup tegang tersebut, sebuah mobil berhenti di depan rumah Tari. Seorang pria dengan tangan diborgol dan dikawal petugas digelandang masuk ke dalam. Mas Hen langsung berteriak kalau orang ini yang tadi menitipkan tas tersebut kepadanya. Pria yang bernama Yudas itu akhirnya mengaku jika tas yang berisi narkoba itu memang miliknya. Yudas kemudian meminta maaf kepada Mas Hen karena sudah membuatnya ikut berurusan dengan polisi. Tari dan Mas Hen berpelukan penuh kelegaan. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi mereka. Jangan sampai kebaikan mereka dimanfaatkan atau disalahgunakan oleh orang lain. Jadi ingat pesan populer Bang Napi: Harus tetap waspadalah.. Waspadalah..!
NUANSA RUMAH KITA (35)
*Antara Baik dan Waspada
Oleh: Yosep Yuniarto
Pagi itu Tari pergi berbelanja ke pasar. Dia sudah bisa mengemudikan mobil sendiri, betul-betul seorang ibu rumah tangga yang mandiri. Tari sama sekali tidak mengeluh dengan kondisi keluarga kecilnya. Mas Hen, suaminya seorang difabel dan duduk di kursi roda. Namun mereka saling menyayangi dan mendukung satu sama lain. Barang belanjaan Tari hari itu cukup banyak, sebagian untuk kebutuhan selama satu minggu. Tari pulang agak siang, dan sesampainya di rumah, terlihat lumayan banyak orang berkerumun dan juga sebuah mobil polisi. Perasaan Tari pun menjadi tidak enak, apa yang sedang terjadi di rumah mereka?
Tari bergegas keluar dari mobilnya. Bapak ketua RT setempat kemudian menghampiri Tari. Penjelasan yang diberikan membuat Tari kaget: Mas Hen dituduh memiliki narkoba dan ada barang buktinya. Tari langsung masuk ke dalam dan mendapati Mas Hen sedang terbata-bata menjawab cecaran pertanyaan dari petugas. Tari kemudian meminta waktu untuk berbicara dengan suaminya. Setelah mengetahui duduk persoalannya, Tari pun berbicara mewakili suaminya. Intinya tadi pagi Mas Hen sedang sendirian ditinggal Tari ke pasar. Tiba-tiba datanglah seorang teman Mas Hen dan kemudian menitipkan dua buah tas. Katanya nanti siang tas itu akan diambil kembali. Mas Hen tidak curiga dan mempersilahkan saja. Sekitar 30 menit kemudian rumah mereka didatangi petugas. Ternyata tas titipan tersebut berisi narkoba!
Untungnya Mas Hen sama sekali tidak menyentuh tas tersebut. Dengan tenang Tari berkata, jika tas itu punya suaminya, pasti ada sidik jarinya di sana. Dalam suasana masih cukup tegang tersebut, sebuah mobil berhenti di depan rumah Tari. Seorang pria dengan tangan diborgol dan dikawal petugas digelandang masuk ke dalam. Mas Hen langsung berteriak kalau orang ini yang tadi menitipkan tas tersebut kepadanya. Pria yang bernama Yudas itu akhirnya mengaku jika tas yang berisi narkoba itu memang miliknya. Yudas kemudian meminta maaf kepada Mas Hen karena sudah membuatnya ikut berurusan dengan polisi. Tari dan Mas Hen berpelukan penuh kelegaan. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi mereka. Jangan sampai kebaikan mereka dimanfaatkan atau disalahgunakan oleh orang lain. Jadi ingat pesan populer Bang Napi: Harus tetap waspadalah.. Waspadalah..!
NUANSA RUMAH KITA (34)
#pentigraf_lepas
NUANSA RUMAH KITA (34)
*Misteri Bu Suminah
Oleh: Jenny Seputro
Perasaan Tari masih galau setiap kali melewati rumah bercat coklat muda yang dulu sangat sering dikunjunginya. Sebelum lulus kursus keperawatan, Tari ditugaskan untuk menemani dan merawat seorang ibu paruh baya yang tinggal di rumah itu. Namanya Bu Suminah. Dia tinggal seorang diri, suaminya bekerja di luar pulau dan jarang pulang, sedang anak tunggalnya kerja di Surabaya. Bu Suminah menderita depresi, karakternya aneh dan bisa sewaktu-waktu meledak. Awalnya Tari takut, tapi setelah beberapa saat ia mulai terbiasa. Bu Suminah juga menyukai perawat barunya ini. Tidak saja bisa menampung unek-uneknya, tapi juga bisa mengantarnya jalan-jalan dan belanja.
Setiap kali belanja, Bu Suminah senang membelikan suaminya kemeja dan kaos baru. Terkadang juga celana panjang. Tak lupa kue-kue dan jajanan kesukaan suaminya. Tari kagum, karena meski sering mengeluh suaminya menyebalkan, tapi Bu Suminah sangat perhatian dengan apa yang disukainya. Hampir dua bulan merawat Bu Suminah, Tari belum pernah bertemu dengan suaminya. Padahal Bu Suminah bilang sebentar lagi dia pulang. Hingga suatu hari anaknya datang dari Surabaya untuk menjemputnya. Katanya ibu perlu dimasukkan ke rehabilitasi jiwa. Bu Suminah marah, berteriak-teriak kalau dia membenci anaknya itu. Bagaimana kalau suaminya nanti pulang dan tidak ada orang di rumah? Tari yang kebetulan ada di situ sempat ketakutan.
Setelah Bu Suminah pergi, Tari dan kedua temannya diminta membereskan rumah itu. Barang-barang Bu Suminah harus dikemas dan dikirim ke Surabaya. Saat membuka lemari pakaiannya, Tari tertegun melihat bertumpuk-tumpuk pakaian pria yang masih baru di dalam plastik. Beberapa yang paling atas dibeli bersamanya. Riska yang membersihkan dapur terpekik ngeri. Di dalam lemari makanan bertumpuk kue-kue dan jajanan yang sudah kadaluarsa, sebagian berjamur. Banyak di antaranya yang Tari ingat dibeli Bu Suminah akhir-akhir ini. Di dalam lemari pakaian dalam, Tari menemukan sebungkus racun tikus yang sudah dibuka. Orang macam apa menyimpan racun tikus di antara pakaian dalam? Saat Riska masuk ke kamar, Tari bertanya apakah Riska tahu tentang suami Bu Suminah. Riska menatap Tari dengan heran, "Lho, kamu tidak tahu? Suaminya kan sudah meninggal tahun lalu, keracunan racun tikus."
Perth, 11 Agustus 2018
#nuansarumahkita
Penulis yang sudah berpartisipasi
Agust Wahyu, Merry Srifatmadewi, Albertha Tirta, Camelia Septiyati Koto, Ypb Wiratmoko, Jenny Seputro, Yosep Yuniarto, Siu Hong-Irene Tan, Stella Christiani Ekaputri Widjaja, Waty Sumiati Halim, Maria Miguel, Sylvie Trenggono, Budi Hantara
Catatan:
- Pentigraf atau penagraf ini merupakan cerita lepas judul "NUANSA RUMAH KITA" yang menghadirkan tokoh utama wanita sederhana dengan hati yang cantik bernama Tari, lengkapnya Lestari Ayu Ningtyas.
- Siapa saja boleh menyumbangkan tulisan di sini, tentunya dengan pesan-pesan positif yang menyejukkan.
- Pentigraf atau penagraf dapat dikemas dengan sedih, humor, dan sebagainya.
-Bagi yang beminat dapat dikirim lewat inboks ke Agust Wahyu jangan lupa paling bawah tulis #nuansarumahkita
- Bagi Anda yang ingin membaca lengkap pentigraf atau penagraf lepas ini dapat dilihat di https://anggrek-white.blogspot.com/
Salam Literasi
NUANSA RUMAH KITA (34)
*Misteri Bu Suminah
Oleh: Jenny Seputro
Perasaan Tari masih galau setiap kali melewati rumah bercat coklat muda yang dulu sangat sering dikunjunginya. Sebelum lulus kursus keperawatan, Tari ditugaskan untuk menemani dan merawat seorang ibu paruh baya yang tinggal di rumah itu. Namanya Bu Suminah. Dia tinggal seorang diri, suaminya bekerja di luar pulau dan jarang pulang, sedang anak tunggalnya kerja di Surabaya. Bu Suminah menderita depresi, karakternya aneh dan bisa sewaktu-waktu meledak. Awalnya Tari takut, tapi setelah beberapa saat ia mulai terbiasa. Bu Suminah juga menyukai perawat barunya ini. Tidak saja bisa menampung unek-uneknya, tapi juga bisa mengantarnya jalan-jalan dan belanja.
Setiap kali belanja, Bu Suminah senang membelikan suaminya kemeja dan kaos baru. Terkadang juga celana panjang. Tak lupa kue-kue dan jajanan kesukaan suaminya. Tari kagum, karena meski sering mengeluh suaminya menyebalkan, tapi Bu Suminah sangat perhatian dengan apa yang disukainya. Hampir dua bulan merawat Bu Suminah, Tari belum pernah bertemu dengan suaminya. Padahal Bu Suminah bilang sebentar lagi dia pulang. Hingga suatu hari anaknya datang dari Surabaya untuk menjemputnya. Katanya ibu perlu dimasukkan ke rehabilitasi jiwa. Bu Suminah marah, berteriak-teriak kalau dia membenci anaknya itu. Bagaimana kalau suaminya nanti pulang dan tidak ada orang di rumah? Tari yang kebetulan ada di situ sempat ketakutan.
Setelah Bu Suminah pergi, Tari dan kedua temannya diminta membereskan rumah itu. Barang-barang Bu Suminah harus dikemas dan dikirim ke Surabaya. Saat membuka lemari pakaiannya, Tari tertegun melihat bertumpuk-tumpuk pakaian pria yang masih baru di dalam plastik. Beberapa yang paling atas dibeli bersamanya. Riska yang membersihkan dapur terpekik ngeri. Di dalam lemari makanan bertumpuk kue-kue dan jajanan yang sudah kadaluarsa, sebagian berjamur. Banyak di antaranya yang Tari ingat dibeli Bu Suminah akhir-akhir ini. Di dalam lemari pakaian dalam, Tari menemukan sebungkus racun tikus yang sudah dibuka. Orang macam apa menyimpan racun tikus di antara pakaian dalam? Saat Riska masuk ke kamar, Tari bertanya apakah Riska tahu tentang suami Bu Suminah. Riska menatap Tari dengan heran, "Lho, kamu tidak tahu? Suaminya kan sudah meninggal tahun lalu, keracunan racun tikus."
Perth, 11 Agustus 2018
#nuansarumahkita
Penulis yang sudah berpartisipasi
Agust Wahyu, Merry Srifatmadewi, Albertha Tirta, Camelia Septiyati Koto, Ypb Wiratmoko, Jenny Seputro, Yosep Yuniarto, Siu Hong-Irene Tan, Stella Christiani Ekaputri Widjaja, Waty Sumiati Halim, Maria Miguel, Sylvie Trenggono, Budi Hantara
Catatan:
- Pentigraf atau penagraf ini merupakan cerita lepas judul "NUANSA RUMAH KITA" yang menghadirkan tokoh utama wanita sederhana dengan hati yang cantik bernama Tari, lengkapnya Lestari Ayu Ningtyas.
- Siapa saja boleh menyumbangkan tulisan di sini, tentunya dengan pesan-pesan positif yang menyejukkan.
- Pentigraf atau penagraf dapat dikemas dengan sedih, humor, dan sebagainya.
-Bagi yang beminat dapat dikirim lewat inboks ke Agust Wahyu jangan lupa paling bawah tulis #nuansarumahkita
- Bagi Anda yang ingin membaca lengkap pentigraf atau penagraf lepas ini dapat dilihat di https://anggrek-white.blogspot.com/
Salam Literasi
Langganan:
Postingan (Atom)




