Rabu, 21 Januari 2009

Negeri di Awan

Negeri di Awan - Katon Bagaskara


Di bayang wajahmu
kutemukan kasih dan hidup
yang lama lelah aku cari
di masa lalu
*
Kau datang padaku
kau tawarkan hati nan lugu
selalu mencoba mengerti
hasrat dalam diri
*
Kau mainkan untukku
sebuah lagu
tentang neg'ri di awan
di mana kedamaian menjadi istananya
dan kini tengah kau bawa
aku menuju kesana oh.. hoo
*
Ternyata hatimu
penuh dengan bahasa kasih
yang terungkapkan dengan pasti
dalam suka dan sedih

Demi Cinta

Anang & Krisdayanti - Demi Cinta

Demi Cinta - Anang dan Krisdayanti
kumiliki kamu untuk bahagia
kuhidup denganmu bukan untuk sesaat
itulah ikrar berdua
saling memberi saling menerima
saling mengerti dan saling menjaga
biar tak ada luka

ooh cinta

reff:
seharusnya saling jujur bicara demi cinta
seharusnya kau dan aku percaya satu cinta
untuk selamanya
diberi bahagia rasakan berdua
diberi luka nikmati bersama
indah saling mencinta

ooh cinta

repeat reff

sehati sejiwa kita berdua
selalu bercinta selamanya

ooh selamanya

repeat reff

download MP3 Anang & Krisdayanti - Demi Cinta.

Senin, 20 Oktober 2008

Ikhlas

Ini cerita tentang Anisa, seorang gadis kecil yang ceria berusia lima tahun. Pada suatu sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika sedang menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik. Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Anisa sangat ingin memilikinya.

Tapi... Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji: Tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki ber-renda yang cantik. Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya :

"Ibu, bolehkah Anisa memiliki kalung ini? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi... "
Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Anisa yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas. Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten...
"Oke ... Anisa, kamu boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?"
Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya."Terimakasih..., Ibu".

Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya. Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau...

Setiap malam sebelum tidur, Ayah Anisa akan membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya
"Anisa..., Anisa sayang ngga sama Ayah?"
"Tentu dong... Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah!"
"Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu..."
"Yah..., jangan dong Ayah! Ayah boleh ambil "si Ratu" boneka kuda dari nenek... Itu kesayanganku juga"
"Ya sudahlah sayang,... ngga apa-apa!". Ayah mencium pipi Anisa sebelum keluar dari kamar Anisa.

Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi,
"Anisa..., Anisa sayang nggak sih, sama Ayah?"
"Ayah, Ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada Ayah?".
"Kalau begitu, berikan pada Ayah kalung mutiaramu."
"Jangan Ayah... Tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini.." Kata Anisa seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain. Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk kekamarnya, Anisa sedang duduk diatas tempat tidurnya.

Ketika didekati, Anisa rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan. Dari matanya, mengalir bulir-bulir air mata membasahi pipinya...
"Ada apa Anisa, kenapa Anisa?" Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangannya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya

"Kalau Ayah mau... ambillah kalung Anisa" Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Anisa.

Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih... sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Anisa...

"Anisa... ini untuk Anisa. Sama bukan? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau" Ya..., ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Anisa.

Demikian pula halnya dengan ALLAH. Terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Anisa: Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga,dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangan.. . baik itu berupa barang/harta ataupun orang yang kita kasihi.

Untuk itulah perlunya sikap ikhlas, karena kita HARUS yakin tidak akan ALLAH mengambil sesuatu dari kita jika tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Kamis, 16 Oktober 2008

Bapa Surgawi

Terima Kasih untuk semua anugerah-Mu dalam kehidupanku
Terima kasih untuk kasih-Mu yang tanpa batas bagiku,
keluargaku dan orang orang di sekitarku.
Terima Kasih menjadikan aku sebagai alasan Engkau memberkati lingkunganku,
pekerjaanku dan komunitasku.

Semua kutukan nenek moyangku, kedua orangtuaku, keluargaku dan aku sendiri, aku patahkan dalam KUASAMU.
Segala sakit penyakit dalam tubuhku dan keluargaku telah ENGKAU sembuhkan oleh bilur bilur-Mu.
Tahirkan lidah, mulut dan bibirku sehingga hanya kata kata berkat dan Firman-Mu saja yang bisa aku katakan
Tahirkan mataku sehingga hanya hal hal yang daripadaMu saja yang aku lihat, untuk pertumbuhan imanku
Tahirkan telingaku sehingga hanya kebenaranMu yang aku dengar dan perdengarkan

Berkatilah aku, pasangan hidupku, anak-anakku, semua keluargaku, rumahku, pekerjaanku serta teman-temanku.
Jadikanlah kami perpanjangan hati dan tanganMU.
Terima Kasih Bapa untuk semuanya

Dalam nama TUHAN YESUS aku berdoa.
AMIN....

Sabtu, 20 September 2008

TUHAN YESUS, INI OWE, A CONG....

Ini sebuah kisah nyata yang menarik dan menyentuh. Ada seorang laki-laki paruh baya, umur 50 tahunan. Ia dipanggil A Cong. Miskin harta, tetapi jujur dan tekun. Kejujuran dan ketekunan itu mendapat perhatian seorang pemilik toko material di daerah Glodok, Pinangsia, Jakarta. A Cong diangkat menjadi CEO (chief executive officer) atau penanggung jawab penuh toko tersebut. Usaha material itu meraup sukses luar biasa.

Sedemikian sibuknya A Cong di toko itu melayani pembeli, sampai ia tak sempat makan dengan teratur. Bahkan tidak jarang ia makan sambil tetap melayani… Tetapi, di tengah kesibukannya, setiap jam 12 siang ia menyempatkan diri berlari ke sebuah Gereja di dekat situ. Dan itu ia lakukan tiap hari, sudah lebih dari tiga setengah tahun.

Sampai pada suatu hari kecurigaan seorang pastor memuncak .. ! Ia telah memperhatikan dan mengamati fenomena aneh ini di Gerejanya. A Cong datang di pintu Gereja, hanya berdiri saja, membuat tanda salib, lalu segera pergi lagi...
Ritual itu setia dilakukan A Cong, tiap-tiap hari, itu-itu saja. Adakah udang dibalik batu??? Jangan-jangan ..... Romo yang penasaran itu mencari kesempatan menghadang si A Cong, dan bertanya tanpa basa-basi lagi;
”Maaf, Cek (panggilan menghormat bagi laki-laki Tionghoa), kenapa Encek saben hari datang jam 12 begini, cuman berdiri aja di pintu, bikin tanda salib, terus cepet-cepet pergi?”
Kaget, si A Cong menjawab tersipu: “Hah?!...? Lomo, owe ini olang sibuk, owe punya waktu seliki, tapi owe seneng dateng kemali.”
Jelas, Romo belum puas dan terus mendesak: ”Emangnya apa yang Encek lakukan di pintu gereja gitu?”
Jawab A Cong dengan polos: “Ngga ada apa-apa. Benel Owe cuman bilang ini doang: Tuhan Yesus, ini owe, A Cong. Uuudah .”
Terbengong, hanya 'Oh....!' yang bisa dilontarkan sang Romo. Dan A Cong pun bergegas kembali ke tokonya.

Pada suatu hari A Cong sakit parah karena super sibuk dan makan sekenanya, tidak teratur. Komplikasi penyakitnya cukup berat sehingga ia dilarikan kerumah sakit. A Cong bukan orang kaya, maka ia menempati kamar kelas 3, satu kamar dihuni 8 orang pasien. Sejak masuknya A Cong, kamar itu menjadi ceria, penuh canda tawa.Tak terasa 3 bulan sudah A Cong dirawat. Ia pun sembuh dan diperbolehkan pulang.

Ia gembira, tentunya, tetapi teman-teman sekamarnya bersedih. Selama dirawat itu, semua sesama pasien dihiburnya. A Cong setiap pagi menghampiri teman-teman pasiennya, satu per satu, dan menanyakan keadaan masing-masing.. Sayang, sekarang A Cong harus pulang dan kamar itu akan kembali sunyi.

Akhirnya salah seorang sesama pasien mencoba bertanya: ”Eh, Cek A Cong, mau nanya nih. Kenapa sih Encek begitu gembira, dan selalu gembira, padahal penyakit Encek 'kan serius?”

Acong tercenung dan menjawab, ”saben ali yam lua welas, yah, ada olang laki lambut gondlong dateng, megang kaki owe, dia bilang: A Cong, ini aku, Yesus Kristus. Gimana owe nggak seneng, coba...”
Moral of the story

Sesibuk-sibuknya kita, sisihkan waktumu, untuk selalu bersama Tuhan Yesus, ..

Sabtu, 13 September 2008

Pada Pelajaran Olah Raga

Olah raga adalah sesuatu yang menyenangkan... tetapi sayang sekarang saya nggak punya kesempatan untuk itu. Tetapi sekali waktu saya akan meluangkan waktu untuk berolah raga lagi.
Pada saat kelas V SD pelajaran Olah raga diberikan oleh Bapak Soesanto. Dan biasanya dari dua jam pelajaran, sepuluh sampai lima belas menit pertama untuk pemanasan dengan senam ringan yang dipimpin oleh Pak Santo atau anak yang ditunjuk. Setelah itu kami sebagai muridnya diberi kebebasan untuk masuk dalam kelompok sesuai olah raga yang diinginkan, antara lain: bultangkis, tenis meja, atau bola voli, kadang-kadang ada sepak bola.

Sebenarnya tidak sepenuhnya dibebaskan, karena sekolah hanya menyediakan fasilitas penuh untuk bola voli. Sedangkan yang lain siswa membawa sendiri, kecuali meja dan lapangan tentunya.

Entah kenapa, pada pelajaran olah raga tiba-tiba muncul istilah kelompok elite dan kelas kambing (mestinya klompok kambing ya...). Kelompok Elite adalah kelompok yang memilih bulutangkis, karena pada saat itu harga raket dan bolanya termasuk mahal, apalagi untuk ukuran anak-anak pinggiran kota Palembang. Sedang yang ke sekolah hanya bermodal uang jajan pas-pasan atau tak punya uang jajan sekalian, pasti memilih bola voli atau sepakbola dan masuk kelompok kelas kambing.

Saya sering merasa iri... ingin sekali meminjam raket pada teman-teman saya dan merasakan main bulutangkis di lapangan yang tergolong baik. Untuk ukuran saat itu, lapangan bulutangkis yang diplester semen sudah termasuk baik, dibandingkan lapangan voli yang kalau hujan berkubang lumpur. tatapi keinginan itu saya pendam terus, tetapi saya tetap berniat untuk sekali waktu bisa memiliki raket dan membawa shuttlecock.

Sebenarnya saya pernah minta pada orang tua, tapi belum dikabulkan. Dan saya juga tahu diri sehingga tak pernah meminta lagi, mengingat kondisi keluarga saat itu dimana kami merupakan keluarga besar dengan tujuh saudara. Selain meminta pada orang tua, tak lupa meminta pada Tuhan dengan berdoa.

Saya dari dulu percaya kalau doa dipanjatkan dengan tulus akan dikabulkan, termasuk untuk mendapatkan raket dan shuttlecock. Entah dari mana, tiba-tiba suatu hari orang tua saya menghadiahkan barang yang saya idam-idamkan tersebut. Katanya sih dari sesorang. Raketnya tidak baru, tetapi shuttlecocknya baru. Saya bersyukur dan berterimakasih sekali.

Dengan penuh kebanggaan, saya membawa raket dan shuttlecock itu ke sekolah pada saat jam pelajaran. Dan agak beda dengan biasanya, setelah pemanasan... dengan bangga saya masuk kelompok bulutangkis. Entah kenapa tiba-tiba Pak Santo menarik tangan saya,
"Kembali ke sana!"
Dia menunjuk ke lapangan Voli.
"Tapi, Pak!"
Belum sempat saya jawab, dia sudah memukul punggung saya. Padahal saya belum jelaskan apa-apa.
"Kalau ga punya raket jangan di sini. Kere aja mau lagak punya."
Saya sudah keburu ketakutan dan merasa sakit di punggungku. Entah dia tahu apa tidak kalau saya sebenarnya menangis dalam hati. Begitu menyakitkan jadi orang miskin. Dia tak percaya kalu saya mampu punya raket dan shuttlecock.

Semenjak itu saya sangat membencinya.... dan saya sukar melupakan bayangan wajahnya saat itu. Matanya melotot dengan bertolak pinggang dbalut kaos tanpa lengan berwarna merah.

Tapi aku telah memaafkannya... dan ketika saya pindah ke Jakarta. Saya ceritakan semuanya... dan malahan saya berterimakasih dan minta doakan agar saya bisa menjadi orang yang kaya dan tidak dihina lagi.

Terima kasih Pak Santo.

Bapak J. Soesanto

Dengan membicarakan lagu, saya jadi teringat kenangan semasa di kelas VI SD Xaverius III, Jalan Sekojo (Sekarang Urip Sumoharjo), Sungai Buah, Palembang. Bagaimana keadaan sekolah ini sekarang? Sudah lama saya tidak melihatnya, tepatnya semenjak meninggalkan Palembang hampir 20 tahun silam.

Pada saat kelas VI SD, wali kelas saya adalah Bapak Soesanto. Kabar terakhir dia sudah dipanggil Tuhan beberapa tahun silam. Semoga Tuhan melapangkan jalan-Nya hingga dapat sampai pintu surga.

Banyak kenangan manis dan kenangan pahit dengan Pak Santo, demikian panggilannya. Saya masih ingat profilnya... gemuk pendek dan berkumis lebat. Sukanya pelajaran Matematika (waktu itu berhitung) dan Olah raga. Waktu itu belum seperti sekarang, wali kelas merangkap guru serba bisa... mengampu semua mata pelajaran.

Sebenarnya saya menyukai beliau, karena dia punya kesamaan dengan saya... tidak dapat menyanyi, sehingga selama setahun menjadi wali kelas, belum pernah sekalipun mengajarkan seni suara. Hal ini yang menyenangkan diri saya...

Hal lain yang menyenangkan... mungkin sama lagi, dia menyukai pelajaran matematika. Sehingga setiap hari ada matematika... dan ini sangat menyenangkan bagi saya. Mungkin ini salah satu faktor yang membuat saya menyukai matematika.

Terus hal yang tidak menyenangkan apa? Banyak sekali... tapi kalu saya ungkapkan di sini bukan berarti berniat mengungkap kejelekannya, tapi justru merupakan refleksi saya sebagai guru.

Pertama dan yang utama yang dulunya membuatku sangat membencinya adalah karena dia pernah memukul punggungku sehingga punggungku memar tanpa tahu apa kesalahanku. Cerita mengenai hal ini akan saya tuliskan pada kesempatan lain, karena kalau di sini akan jadi panjang lebar. Lengkapnya dapat klik pada tulisan: Pada Pelajaran Olah Raga.

Kedua, dia berlaku tidak adil. Saya bisa katakan ini karena memang dia berlaku tidak adil dengan saya dan beberapa teman saya yang lain. Tetapi kami tak mampu berbuat apa-apa dan hanya bisa menerima keadaan ini.

Ketiga, dia menghalangi kreativitasku untuk menggambar. Salah satu kesenangan saya dulu adalah menggambar. Tetapi sama seperti seni suara, dia juga tak menyukai pelajaran menggambar sehingga tak ada pelajaran menggambar selama setahun.

Demikian hal-hal yang tidak menyenangkan yang pernah saya alami. Semoga ini menjadi refleksi bagi saya selama jadi guru. Semoga saya tidak melakukan kekerasan kepada anak didikku, berlaku adil dan tidak menghalangi kreativitas anak didikku.