Rabu, 18 Juli 2018

NUANSA RUMAH KITA (15)

#pentigraf_lepas
NUANSA RUMAH KITA (15)
*Mengganti Bingkai Pikir
Oleh Stella Christiani Ekaputri Widjaja

Saat ini penjualan online lagi marak, dan dampaknya pada pusat perbelanjaan tradisional terpaksa harus tutup. Dan banyak mall menawarkan diskon besar-besaran yang menggiurkan. Mulai dari sepatu sampai peralatan rumah tangga, semua turun harga. Dan di mana-mana yang namanya sale selalu menarik pengunjung bagai madu menarik kawanan kumbang. Tari, mama, dan adik perempuannya tak terkecuali. Dia memang sedang membutuhkan celana panjang baru. Jadi begitu melihat tanda beli 1 dapat diskon 50% untuk barang ke dua di gerai baju kesukaannya, dia langsung menyeret mama dan adiknya ke sana. “Ma, beliin Tari celana panjang baru. Udah pada sempit semua,” demikian pemintaan Tari pada Mamanya.

"Mama dan adik saja yang beli ya. Nanti kamu pakai celana bekas adikmu saja," begitu kata mamanya. Betapa jengkelnya Tari ketika mendengar hal itu. Hatinya geram karena merasa diperlakukan tak adil. Kan dia yang sebenarnya mau beli celana? Tapi kenapa justru adiknya yang dibelikan dulu dan dia harus mengalah? Lalu kenapa dia harus memakai celana bekas? Ingin rasanya dia memprotes. Hmm, tapi tunggu, apa ya tepatnya yang menbuatnya tersinggung? Tari menarik beberapa kali napas panjang. Mama kan tak mungkin bermaksud membeda-bedakan?

Ia memakai kesempatan menunggu mama dan adiknya mencoba celana untuk merenung sejenak. Ternyata dalam pikirannya barang bekas itu jelek, sesuatu yang sudah tidak bagus yang disingkirkan. Sedangkan celana yang akan diberikan kepadanya masih bagus, hanya saja sudah terlalu besar untuk adiknya yang sedang berdiet. Jadi tak perlu gusar kan? Dapat celana baru yang masih bagus tanpa keluar uang? Senyum kembali mengembang di wajah Tari. Dan dalam hainya bertekad untuk cepat bekerja sehingga dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dan membantu orang tuanya.

18 Juli 2018
#nuansarumahkita

Penulis yang sudah berpartisipasi
Agust Wahyu, Merry Srifatmadewi, Albertha Tirta, Camelia Septiyati Koto, Ypb Wiratmoko, Jenny Seputro, Yosep Yuniarto, Siu Hong-Irene Tan, Stella Christiani Ekaputri Widjaja

Catatan:
- Pentigraf ini merupakan cerita lepas judul "NUANSA RUMAH KITA" yang menghadirkan tokoh utama wanita sederhana dengan hati yang cantik bernama Tari, lengkapnya Lestari Ayu Ningtyas.
- Siapa saja boleh menyumbangkan tulisan di sini, tentunya dengan pesan-pesan positif yang menyejukkan.
- Pentigraf dapat dikemas dengan sedih, humor, dan sebagainya.
-Bagi yang beminat dapat dikirim lewat inboks ke Agust Wahyu jangan lupa paling bawah tulis #nuansarumahkita
- Bagi Anda yang ingin membaca lengkap pentigraf lepas ini dapat di lihat di https://anggrek-white.blogspot.com/

Salam Literasi

Selasa, 17 Juli 2018

NUANSA RUMAH KITA (14)

#pentigraf_lepas
NUANSA RUMAH KITA (14)
*Tukang Parkir
Oleh Yosep Yuniarto

Tari adalah mahasiswi sebuah universitas ternama di ibukota meskipun dia berasal dari keluarga sederhana. Kecerdasan otaknya membuat gadis manis itu mendapatkan beasiswa dalam menempuh kuliahnya. Sifatnya yang ramah, murah senyum dan suka menolong membuat Tari banyak disukai oleh teman-temannya. Tak heran jika dia juga sudah dipercaya menjadi seorang asisten dosen. Tari sama sekali tidak merasa malu setiap hari berangkat kuliah naik sepeda di saat teman-temannya banyak yang mengendarai sepeda motor bahkan mobil mewah.

Sudah sekitar satu minggu ini Tari yang kebetulan sedang libur kuliah menggantikan ayahnya yang sedang sakit, menjadi tukang parkir di sebuah pusat pujasera di pinggir kompleks perumahan. Gadis manis itu sama sekali tidak merasa enggan dan risih. Baginya yang penting profesi ayahnya itu halal dan menuntut tanggung jawab dedikasi juga. Petang itu sebuah sedan mewah berwarna hitam hendak beranjak meninggalkan areal parkir. Tari dengan sigap memberi aba-aba dan memandu mobil tersebut. Sang pengemudi yang seorang bapak setengah baya kemudian membuka kaca pintu mobilnya hendak membayar tarif parkir. Namun Tari malah mendahului menyodorkan beberapa lembar uang kepada bapak tersebut yang nampak jadi bingung.

Sembari tersenyum Tari berkata jika dia masih ingat betul jika beberapa hari yang lalu si bapak keliru memberi uang tarif parkir yaitu dua lembar uang Rp 20.000. Padahal tarif parkir hanya Rp 4.000. Maklum uang Rp 20.000 dengan Rp 2.000 sepintas memang hampir mirip. Waktu itu si bapak nampak sedang terburu-buru dan langsung melajukan mobilnya sehingga Tari tak sempat memberitahu. Makanya sekarang Tari memberikan kelebihan uang parkir yang lalu itu dipotong tarif parkir sekarang jadi Rp 32.000. Di dalam mobil Pak Paulus nampak senyum-senyum sendiri mengingat peristiwa barusan. Beliau kagum akan kejujuran Tari di zaman yang penuh dengan penipuan dan kejahatan ini. Pak Paulus berencana akan mengenalkan Tari kepada istrinya yang baru saja membuka toko pakaian dan alat-alat kosmetik. Tentunya membutuhkan pegawai yang dapat dipercaya. Pak Paulus belum mengetahui jika Tari adalah teman sekampus Robert, anak tunggalnya yang sudah lama naksir dan jatuh hati terhadap gadis manis itu.

Margasari, 17 Juli 2018
#nuansarumahkita

Penulis yang sudah berpartisipasi
Agust Wahyu, Merry Srifatmadewi, Albertha Tirta, Camelia Septiyati Koto, Ypb Wiratmoko, Jenny Seputro, Yosep Yuniarto, Siu Hong-Irene Tan

Catatan:
- Pentigraf ini merupakan cerita lepas judul "NUANSA RUMAH KITA" yang menghadirkan tokoh utama wanita sederhana dengan hati yang cantik bernama Tari, lengkapnya Lestari Ayu Ningtyas.
- Siapa saja boleh menyumbangkan tulisan di sini, tentunya dengan pesan-pesan positif yang menyejukkan.
- Pentigraf dapat dikemas dengan sedih, humor, dan sebagainya.
-Bagi yang beminat dapat dikirim lewat inboks ke Agust Wahyu jangan lupa paling bawah tulis #nuansarumahkita
- Bagi Anda yang ingin membaca lengkap pentigraf lepas ini dapat di lihat di https://anggrek-white.blogspot.com/

Salam Literasi

Senin, 16 Juli 2018

NUANSA RUMAH KITA (13)

#pentigraf_lepas
NUANSA RUMAH KITA (13)
*Hari Tuhan
Oleh Camelia Septiyati Koto

Tadi malam Tari sengaja tidak tidur terlalu malam karena ia berencana untuk ikut misa bersama dua sahabatnya Tasya dan Dita. Sudah lama mereka tidak saling bertemu walaupun tinggal di kota yang sama. "Nanti setelah misa kita makan siang di cafe Kenanga saja, sudah lama kita tidak makan di sana. Itung-itung bernostalgia kita," tulis Tasya pada pesan singkatnya semalam. Dan Tari pun sudah tak sabar untuk pertemuan mereka esok hari, karena selain bertemu dengan dua sahabatnya tersebut ada hal lain yang membuat Tari lebih bersemangat untuk pertemuan esok, Philip sepupu Tasya. Lelaki hitam manis itu yang selalu hadir dalam mimpi Tari. Dan Philip akan bertugas membawakan Mazmur pada misa esok hari. Dan itu sudah cukup untuk Tari melihat Philip memuji Tuhan.

Pagi setelah bangun Tari langsung mandi dan memberikan sedikit polesan bedak dan lipstik pada wajah dan bibirnya. Tidak terlalu mencolok tapi itu sudah cukup membuat Tari terlihat anggun, ditambah dress berwarna biru menambah keanggunan Tari. Saat Tari sedang bersiap tiba-tiba pintu gerbang rumahnya ada yang membuka. "Mbak Tari saya mau minta tolong, ibu sakit terjatuh di kamar mandi." Tari sempat berpikir sejenak apakah ia tetap mengantar Bu Dani atau ia pinjamkan saja mobilnya. Tari sempat ragu dan menimbang-nimbang sejenak. Kalau ke rumah sakit, berarti ia harus melewatkan misa minggu paginya, tidak jadi berkumpul bersama teman-temannya, dan tidak jadi melihat Philip di misa pagi ini. "Ya, saya antar. Tunggu sebentar ya...," akhirnya Tari memutuskan.

Sesampainya di rumah sakit sambil menunggu hasil pemeriksaan dokter, Tari mengirim pesan kepada kedua sahabatnya kalau ia tak bisa ikut misa bersama. Ia tak ingin teman-temannya menunggu kedatangannya. Kemungkinan ia akan menyusul mereka langsung ke cafe Kenanga nanti. Sekitar satu jam kemudian Tari baru mendapatkan balasan dari pesannya kalau ia akan ditunggu kedatangannya. "Jangan lupa bersolek ya, ada yang mau ketemu kamu." Setelah Tari memastikan kondisi Bu Dani sudah membaik Tari mohon diri pada Mega anak Bu Dani. "Makasi banyak mbak, untuk bantuannya." Tari pun bergegas menuju cafe Kenanga untuk menemui kedua sahabatnya, saat ia memasuki cafe tersebut Tari sempat tak percaya karena di antara Tasya dan Dita ada Philip yang ikut bergabung dengan mereka.

Kampung Sawah, 15 Juli 2018
#nuansarumahkita

Penulis yang sudah berpartisipasi
Agust Wahyu, Merry Srifatmadewi, Albertha Tirta, Camelia Septiyati Koto, Ypb Wiratmoko, Jenny Seputro, Yosep Yuniarto, Siu Hong-Irene Tan

Catatan:
- Pentigraf ini merupakan cerita lepas judul "NUANSA RUMAH KITA" yang menghadirkan tokoh utama wanita sederhana dengan hati yang cantik bernama Tari, lengkapnya Lestari Ayu Ningtyas.
- Siapa saja boleh menyumbangkan tulisan di sini, tentunya dengan pesan-pesan positif yang menyejukkan.
- Pentigraf dapat dikemas dengan sedih, humor, dan sebagainya.
-Bagi yang beminat dapat dikirim lewat inboks ke Agust Wahyu jangan lupa paling bawah tulis #nuansarumahkita
- Bagi Anda yang ingin membaca lengkap pentigraf lepas ini dapat di lihat di https://anggrek-white.blogspot.com/


Salam Literasi

Minggu, 15 Juli 2018

NUANSA RUMAH KITA (12)

#pentigraf_lepas
NUANSA RUMAH KITA (12)
*Lestari
Oleh Siu Hong-Irene Tan

Robert berlari kecil menaiki anak tangga sambil melihat jam di tangannya. Pk.05.35, terlalu pagi. Kuliah baru akan dimulai pk.06.00. Tapi ada yang ingin diamatinya, seorang gadis. Langkahnya terhenti di depan pintu kelas, dilihatnya gadis itu sudah duduk menekuni bukunya. Robert tak habis mengerti, sejak jam berapa gadis itu sudah di sini. Tadi saja rasanya dia sudah harus berjuang keras untuk mengalahkan kantuk. Itupun masih tetap kalah pagi. Pantas saja nilai 'si manis' ini selalu A. Dengan memberanikan diri Robert menyapa. Salam Robert dibalas dengan sopan. Sekilas senyumnya tersungging. Dan kemudian kembali menekuni buku. Beberapa menit berjalan kelas sudah riuh dengan mahasiswa. Sungguh gadis yang abai dengan situasi sekeliling. Ramah tapi menjaga jarak.

Setelah melalui perjuangan cukup panjang, akhirnya hari ini Robert mendapatkan sebuah nama: Tari, Lestari Ayu Ningtyas. Rambutnya legam dan lebat, tergerai hingga bahu. Baju dan perlengkapan lain yang dikenakan tergolong sederhana tapi serasi. Kebiasaan pada setiap perkuliahan, tepat 15 menit sebelum perkuliahan usai pukul08.00, selalu pamit terlebih dahulu. Dosen pengampu mata kuliah sepertinya sudah mengerti dan memaklumi. Penasaran, dicarinya informasi dari Cindy tentang kegiatan Tari. Sejak papa Tari pailit, dia harus bekerja sambil kuliah dan membiayai hidup. Sepulang kuliah pagi, Tari bekerja pada sebuah perusahaan angkutan. Kemudian sore hari memberikan les untuk beberapa anak SD dan SMP. Berlanjut dengan kuliah malam hingga pukul 21.00. Setiap hari dari Senin sampai Jumat, kecuali hari Sabtu karena tidak ada kuliah malam. Hari Minggu biasanya berkeliling mengantar jaket pesanan, sore hari baru ada di rumah. Demikian informasi detail dari Cindy.

Dalam kamus Robert belum pernah ada seorang gadis pun yang menolak tawarannya. Berbekal wajah lumayan, otak cemerlang, kantong tebal dan sebuah Honda Civic untuk seorang mahasiswa sudah tergolong lebih dari cukup. Jawaban Tari sungguh menohok dengan telak, "Diskusi kelompok yang menyenangkan. Dan berbagi ilmu denganteman yang belum mengerti sudah keharusan. Tidak perlu berterima-kasih dengan repot mengantarku." Robert terperangah, Tari menolak secara halus. Dan memilih pulang naik becak. Diamati bayangnya yang kian kecil dan menjauh. Gadis mungil nan tangguh. Terkesan dingin tetapi tulus. Tidak cantik tapi menarik. Lembut namun keras hati. Ramah sekaligus angkuh. Memiliki prinsip teguh dan harga diri yang tak bisa dibeli.

Bogor, 13 July 2018
#nuansarumahkita
#pentigraf_IT

Penulis yang sudah berpartisipasi
Agust Wahyu, Merry Srifatmadewi, Albertha Tirta, Camelia Septiyati Koto, Ypb Wiratmoko, Jenny Seputro, Yosep Yuniarto, Siu Hong-Irene Tan

Catatan:
- Pentigraf ini merupakan cerita lepas judul "NUANSA RUMAH KITA" yang menghadirkan tokoh utama wanita sederhana dengan hati yang cantik bernama Tari, lengkapnya Lestari Ayu Ningtyas.
- Siapa saja boleh menyumbangkan tulisan di sini, tentunya dengan pesan-pesan positif yang menyejukkan.
- Pentigraf dapat dikemas dengan sedih, humor, dan sebagainya.
-Bagi yang beminat dapat dikirim lewat inboks ke Agust Wahyu jangan lupa paling bawah tulis #nuansarumahkita
- Bagi Anda yang ingin membaca lengkap pentigraf lepas ini dapat di lihat di https://anggrek-white.blogspot.com/

Salam Literasi

Sabtu, 14 Juli 2018

NUANSA RUMAH KITA (11)

#pentigraf_lepas
NUANSA RUMAH KITA (11)
*Pulang
Oleh Albertha Tirta

Cuti bersama tinggal seminggu lagi. Semua teman-teman Tari sudah siap untuk mudik. Ia juga tak kalah sibuk, menyiapkan 100 paket bingkisan makanan ringan yang akan dibawa pulang. Tiket KA sudah di pesan dan dibayar. Semua keperluan pribadi sudah lengkap di koper. Dengan senandung kecil, ia menyiapkan semua dengan rapi. Pagi ini Tari bangun agak terlambat, semalam sulit tidur. Bayangan masa lalu terpampang terus di pelupuk matanya. Seperti film yang diputar kilas balik. Menjelang pagi baru bisa memejamkan matanya.

Sekali lagi di cermati jam keberangkatan tiket KA. Tertulis jam 16.45 keberangkatannya, jadi masih banyak waktu. Ia bolak balik ke kamar kecil sambil terus menerus melihat jam. Akhirnya ia berangkat lebih cepat dari jadwal. Menjelang tengah hari ia sudah sampai di stasiun. Rupanya ada peraturan baru untuk banyak dan besarnya bagasi. Sebanyak 100 Bingkisan yang di bawa Tari tidak bisa masuk gerbong. Tari mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, dilihatnya ada counter cargo. Ia putuskan mengirim bawaannya lewat jasa pengiriman barang dan yang menguntungkan, barangnya besok bisa sampai bersamaan dengan saat ia tiba di stasiun tujuan. Tari menghela napas lega, cepat ada solusi menghadapi aturan baru.

Esok pagi, Tari sudah sampai di kota tempat ia dibesarkan selama 19 tahun. Kerinduan sudah membuncah. Ia ingin cepat melampiaskan rindunya yang telah dipendam selama dua tahun. Dalam taksi yang membawanya, dihempaskan badannya di jok belakang mobil. Sesampainya di depan gedung besar bertuliskan PANTI ASUHAN PUTRI, mobil langsung membelok menuju pintu gerbang. Tari sudah tidak sabar menunggu di depan pintu, ia ingin cepat memeluk dan meluapkan kegembiraan dengan pengasuh yang sudah dianggap sebagai ibunya sendiri. Seseorang yang belum dikenalnya menyambut Tari. "Mbak Kristi... tiga hari yang lalu telah dipanggil Tuhan," katanya kemudian menyebut nama ibu pengasuh yang dicari Tari dengan terbata-bata dan wajah sedih. Tubuh Tari tiba-tiba limbung, dengan sigap penerima tamu menangkapnya dan membaringkan di sofa.

13072018
#nuansarumahkita

Penulis yang sudah berpartisipasi
Agust Wahyu, Merry Srifatmadewi, Albertha Tirta, Camelia Septiyati Koto, Ypb Wiratmoko, Jenny Seputro, Yosep Yuniarto, Siu Hong-Irene Tan

Catatan:
- Pentigraf ini merupakan cerita lepas judul "NUANSA RUMAH KITA" yang menghadirkan tokoh utama wanita sederhana dengan hati yang cantik bernama Tari, lengkapnya Lestari Ayu Ningtyas.
- Siapa saja boleh menyumbangkan tulisan di sini, tentunya dengan pesan-pesan positif yang menyejukkan.
- Pentigraf dapat dikemas dengan sedih, humor, dan sebagainya.
-Bagi yang beminat dapat dikirim lewat inboks ke Agust Wahyu jangan lupa paling bawah tulis #nuansarumahkita
- Bagi Anda yang ingin membaca lengkap pentigraf lepas ini dapat di lihat di https://anggrek-white.blogspot.com/

Salam Literasi

Jumat, 13 Juli 2018

NUANSA RUMAH KITA (10)

#Pentigraf_lepas
NUANSA RUMAH KITA (10)
*Kapak Merah
Oleh Merry Srifatmadewi

Jalanan ini terkenal rawan kejahatan. Telah berapa lama warga dihantui rasa takut. Tidak ada tanda-tanda aparat dapat melumpuhkan atau memberangus kawanan kapak merah tersebut. Aparat tampak tidak berdaya dan hari demi hari berita di surat kabar selalu tentang 'kehebatan' aksi kawanan kapak merah tersebut. Kendalanya adalah warga yang terpaksa harus, mau tidak mau melewati jalan tersebut. Berhati-hati sudah pasti setiap melewati jalan tersebut. Siang itu cuaca terik. Hawa panas membuat tenggorokan Tari kering. Tidak ada air di dalam mobilnya.

Jalanan macet dimulai dari daerah rawan perempatan pabrik minuman import daerah Cempaka Putih hingga jalan yang kini sedang ditempuh menuju rumah di Bekasi. Tari diingatkan teman-teman cara untuk mengantisipasi, untuk memepet mobil yang dikendarainya dengan mobil yang di depannya sehingga tidak ada jarak yang bisa dilalui motor. Bila terjadi sesuatu, tinggal menabrakkan mobilnya ke mobil di depannya supaya pengemudi mobil di depannya segera turun dan memberikan bantuan. Selama ini Tari tahu aksi terjang kawanan kapak merah melalui surat kabar pagi yang dibacanya. Judulnya nyaris tiap hari mengenai kelompok tersebut. Kali ini, dengan mata kepala sendiri kini Tari harus menyaksikan. Satu persatu mobil kira-kira lima mobil di depannya diketok dengan kapak merah. Semua mobil membuka sedikit kaca dan menyerahkan sesuatu kepada kawanan tersebut. Selamat tidak ada yang dilukai.

Keringat mengucuri muka Tari semakin deras bukan karena hawa panas di luar, tanganpun semua basah oleh keringat ketakutan. Tari tidak tahu harus berbuat apa hanya bisa berdoa dan memohon pertolongan Tuhan. Tepat kini kapak merah beraksi di depan mobilnya. Napas makin memburu, hati semakin tidak karuan. Kaca dari samping pengemudi diketuk anggota kawanan, tidak ada sesuatu yang diserahkan pengemudi mobil di depan Tari. Aduh... bisa-bisa dikapak leher atau kepala pengemudi tersebut. Kapak merah diketukkan ke kaca dengan lebih keras dan marah besar kawanan tersebut. Nyali Tari semakin ciut dan telah menyiapkan uang untuk kawanan tersebut. Tiba-tiba pengemudi mobil dengan beraninya malah keluar dari mobil dan dengan marah langsung menggetok kepala anggota kawanan tersebut dengan pistol yang disandang di pinggangnya. Anggota kawanan tidak pernah menyangka ada pengemudi senekad itu. Orang tersebut langsung kabur terbirit-birit tidak menyangka peristiwa tersebut sambil memegang kepalanya yang bocor berdarah kesakitan.

Bandung, 9 Juli 2018.
#nuansarumahkita
#pentigrafSF

Penulis yang sudah berpartisipasi
Agust Wahyu, Merry Srifatmadewi, Albertha Tirta, Camelia Septiyati Koto, Ypb Wiratmoko, Jenny Seputro, Yosep Yuniarto, Siu Hong-Irene Tan

Catatan:
- Pentigraf ini merupakan cerita lepas judul "NUANSA RUMAH KITA" yang menghadirkan tokoh utama wanita sederhana dengan hati yang cantik bernama Tari, lengkapnya Lestari Ayu Ningtyas.
- Siapa saja boleh menyumbangkan tulisan di sini, tentunya dengan pesan-pesan positif yang menyejukkan.
- Pentigraf dapat dikemas dengan sedih, humor, dan sebagainya.
-Bagi yang beminat dapat dikirim lewat inboks ke Agust Wahyu jangan lupa paling bawah tulis #nuansarumahkita
- Bagi Anda yang ingin membaca lengkap pentigraf lepas ini dapat di lihat di https://anggrek-white.blogspot.com/


Salam Literasi

Kamis, 12 Juli 2018

NUANSA RUMAH KITA (9)

#pentigraf_lepas
NUANSA RUMAH KITA (9)
*Mbak Tari Penjual Sayur
Oleh Agust Wahyu

“Yu Yem, Mbak Tari jualan sayur mahal tapi koq laku ya,” tanya Mak Yah sambil bisik-bisik di dekat pintu pagar pada Yu Yem yang sehari-hari membantu Tari merawat kebun sayur dan buahnya. Perempuan setengah tua itu tak bisa menjawab, dia hanya dapat tersenyum. Pertanyaan serupa bukan hanya ditanyakan satu dua orang tetapi cukup banyak tetangga sekitar tempat tinggal Tari yang tanya, terutama yang punya profesi sebagai petani atau pedagang sayuran. “Rahasia ya Yu… Pelit! Takut nanti jualan majikanmu kalah saingan ya,” ujar salah seorang tetangga lain dengan sinis. Sebenarnya Yu Yem yang sudah mengabdi pada Tari selama lima tahun itu ingin marah. Dia tak rela Tari dikatakan begitu. Dia tak pelit, bahkan sangat baik, bukan hanya dengan dirinya tapi dengan semua orang, terutama yang membutuhkan.

“Yu, bulan ini arisannya di mana?” tanya Tari mengejutkan Yu Yem, panggilan buat Wagiyem. Yu Yem menghentikan kerjaannya dan mengingatkan Tari bahwa bulan lalu dapat arisan, berarti bulan ini rumahnya akan ketempatan. “Tolong sampaikan ke ibu RT ya kalo ibu akan mengajari bagaimana menjadi petani sayur yang sukses.” Perempuan Jawa sederhana yang masih memegang ember itu sempat bertanya lagi pada Tari, takut salah dengar. Baginya aneh kenapa Tari mau membagikan rahasia suksesnya sebagai tukang sayur kepada tetangganya yang kebanyakan juga punya profesi yang sama. Dalam pikiran sederhananya, Yu Yem bertanya pada diri sendiri, apakah nantinya bila banyak petani sayur yang sukses tidak akan mengancam usahanya sendiri? Tapi satu sisi dia bangga dengan kebaikan Tari dan pasti tak akan ada lagi yang bilang dia pelit.

“Ibu-ibu kalau masih ada yang belum jelas silakan tanya. Kebun saya siap dikunjungi bila masih ada yang mau belajar,” kata Tari dengan ramah setelah memberi penjelasan panjang lebar tentang rahasia sukses usahanya. Dia juga dengan sabar dan jelas menjawab semua pertanyaan yang diajukan ibu-ibu yang hadir pada arisan bulanan kali itu. “Apa Mbak Tari tidak takut membuka rahasia ini?” pertanyaan terakhir dari seorang ibu yang sedari awal menyimak penjelasan dengan semangat. Dengan senyum manis, Tari mengatakan bahwa bila tetangganya sukses dan punya kualitas sayuran seperti yang dimilikinya, maka dia akan membantu pemasaran. Hingga kini dia belum mampu memenuhi semua permintaan konsumennya. Tari berpikir untuk menyukseskan diri sendiri dapat dilakukan dengan menyukseskan orang lain terlebih dahulu.

Kampung Sawah, 12 Juli 2018
#nuansarumahkita
#pentigraf_aw

Penulis yang sudah berpartisipasi
Agust Wahyu, Merry Srifatmadewi, Albertha Tirta, Camelia Septiyati Koto, Ypb Wiratmoko, Jenny Seputro, Yosep Yuniarto, Siu Hong-Irene Tan

Catatan:
- Pentigraf ini merupakan cerita lepas judul "NUANSA RUMAH KITA" yang menghadirkan tokoh utama wanita sederhana dengan hati yang cantik bernama Tari, lengkapnya Lestari Ayu Ningtyas.
- Siapa saja boleh menyumbangkan tulisan di sini, tentunya dengan pesan-pesan positif yang menyejukkan.
- Pentigraf dapat dikemas dengan sedih, humor, dan sebagainya.
-Bagi yang beminat dapat dikirim lewat inboks ke Agust Wahyu jangan lupa paling bawah tulis #nuansarumahkita
- Bagi Anda yang ingin membaca lengkap pentigraf lepas ini dapat di lihat di https://anggrek-white.blogspot.com/


Salam Literasi