Kamis, 16 Oktober 2008
Bapa Surgawi
Terima kasih untuk kasih-Mu yang tanpa batas bagiku,
keluargaku dan orang orang di sekitarku.
Terima Kasih menjadikan aku sebagai alasan Engkau memberkati lingkunganku,
pekerjaanku dan komunitasku.
Semua kutukan nenek moyangku, kedua orangtuaku, keluargaku dan aku sendiri, aku patahkan dalam KUASAMU.
Segala sakit penyakit dalam tubuhku dan keluargaku telah ENGKAU sembuhkan oleh bilur bilur-Mu.
Tahirkan lidah, mulut dan bibirku sehingga hanya kata kata berkat dan Firman-Mu saja yang bisa aku katakan
Tahirkan mataku sehingga hanya hal hal yang daripadaMu saja yang aku lihat, untuk pertumbuhan imanku
Tahirkan telingaku sehingga hanya kebenaranMu yang aku dengar dan perdengarkan
Berkatilah aku, pasangan hidupku, anak-anakku, semua keluargaku, rumahku, pekerjaanku serta teman-temanku.
Jadikanlah kami perpanjangan hati dan tanganMU.
Terima Kasih Bapa untuk semuanya
Dalam nama TUHAN YESUS aku berdoa.
AMIN....
Sabtu, 20 September 2008
TUHAN YESUS, INI OWE, A CONG....
Sedemikian sibuknya A Cong di toko itu melayani pembeli, sampai ia tak sempat makan dengan teratur. Bahkan tidak jarang ia makan sambil tetap melayani… Tetapi, di tengah kesibukannya, setiap jam 12 siang ia menyempatkan diri berlari ke sebuah Gereja di dekat situ. Dan itu ia lakukan tiap hari, sudah lebih dari tiga setengah tahun.
Sampai pada suatu hari kecurigaan seorang pastor memuncak .. ! Ia telah memperhatikan dan mengamati fenomena aneh ini di Gerejanya. A Cong datang di pintu Gereja, hanya berdiri saja, membuat tanda salib, lalu segera pergi lagi...
Ritual itu setia dilakukan A Cong, tiap-tiap hari, itu-itu saja. Adakah udang dibalik batu??? Jangan-jangan ..... Romo yang penasaran itu mencari kesempatan menghadang si A Cong, dan bertanya tanpa basa-basi lagi;
”Maaf, Cek (panggilan menghormat bagi laki-laki Tionghoa), kenapa Encek saben hari datang jam 12 begini, cuman berdiri aja di pintu, bikin tanda salib, terus cepet-cepet pergi?”
Kaget, si A Cong menjawab tersipu: “Hah?!...? Lomo, owe ini olang sibuk, owe punya waktu seliki, tapi owe seneng dateng kemali.”
Jelas, Romo belum puas dan terus mendesak: ”Emangnya apa yang Encek lakukan di pintu gereja gitu?”
Jawab A Cong dengan polos: “Ngga ada apa-apa. Benel Owe cuman bilang ini doang: Tuhan Yesus, ini owe, A Cong. Uuudah .”
Terbengong, hanya 'Oh....!' yang bisa dilontarkan sang Romo. Dan A Cong pun bergegas kembali ke tokonya.
Pada suatu hari A Cong sakit parah karena super sibuk dan makan sekenanya, tidak teratur. Komplikasi penyakitnya cukup berat sehingga ia dilarikan kerumah sakit. A Cong bukan orang kaya, maka ia menempati kamar kelas 3, satu kamar dihuni 8 orang pasien. Sejak masuknya A Cong, kamar itu menjadi ceria, penuh canda tawa.Tak terasa 3 bulan sudah A Cong dirawat. Ia pun sembuh dan diperbolehkan pulang.
Ia gembira, tentunya, tetapi teman-teman sekamarnya bersedih. Selama dirawat itu, semua sesama pasien dihiburnya. A Cong setiap pagi menghampiri teman-teman pasiennya, satu per satu, dan menanyakan keadaan masing-masing.. Sayang, sekarang A Cong harus pulang dan kamar itu akan kembali sunyi.
Akhirnya salah seorang sesama pasien mencoba bertanya: ”Eh, Cek A Cong, mau nanya nih. Kenapa sih Encek begitu gembira, dan selalu gembira, padahal penyakit Encek 'kan serius?”
Acong tercenung dan menjawab, ”saben ali yam lua welas, yah, ada olang laki lambut gondlong dateng, megang kaki owe, dia bilang: A Cong, ini aku, Yesus Kristus. Gimana owe nggak seneng, coba...”
Moral of the story
Sesibuk-sibuknya kita, sisihkan waktumu, untuk selalu bersama Tuhan Yesus, ..
Sabtu, 13 September 2008
Pada Pelajaran Olah Raga
Olah raga adalah sesuatu yang menyenangkan... tetapi sayang sekarang saya nggak punya kesempatan untuk itu. Tetapi sekali waktu saya akan meluangkan waktu untuk berolah raga lagi.Pada saat kelas V SD pelajaran Olah raga diberikan oleh Bapak Soesanto. Dan biasanya dari dua jam pelajaran, sepuluh sampai lima belas menit pertama untuk pemanasan dengan senam ringan yang dipimpin oleh Pak Santo atau anak yang ditunjuk. Setelah itu kami sebagai muridnya diberi kebebasan untuk masuk dalam kelompok sesuai olah raga yang diinginkan, antara lain: bultangkis, tenis meja, atau bola voli, kadang-kadang ada sepak bola.
Sebenarnya tidak sepenuhnya dibebaskan, karena sekolah hanya menyediakan fasilitas penuh untuk bola voli. Sedangkan yang lain siswa membawa sendiri, kecuali meja dan lapangan tentunya.
Entah kenapa, pada pelajaran olah raga tiba-tiba muncul istilah kelompok elite dan kelas kambing (mestinya klompok kambing ya...). Kelompok Elite adalah kelompok yang memilih bulutangkis, karena pada saat itu harga raket dan bolanya termasuk mahal, apalagi untuk ukuran anak-anak pinggiran kota Palembang. Sedang yang ke sekolah hanya bermodal uang jajan pas-pasan atau tak punya uang jajan sekalian, pasti memilih bola voli atau sepakbola dan masuk kelompok kelas kambing.
Saya sering merasa iri... ingin sekali meminjam raket pada teman-teman saya dan merasakan main bulutangkis di lapangan yang tergolong baik. Untuk ukuran saat itu, lapangan bulutangkis yang diplester semen sudah termasuk baik, dibandingkan lapangan voli yang kalau hujan berkubang lumpur. tatapi keinginan itu saya pendam terus, tetapi saya tetap berniat untuk sekali waktu bisa memiliki raket dan membawa shuttlecock.
Sebenarnya saya pernah minta pada orang tua, tapi belum dikabulkan. Dan saya juga tahu diri sehingga tak pernah meminta lagi, mengingat kondisi keluarga saat itu dimana kami merupakan keluarga besar dengan tujuh saudara. Selain meminta pada orang tua, tak lupa meminta pada Tuhan dengan berdoa.
Saya dari dulu percaya kalau doa dipanjatkan dengan tulus akan dikabulkan, termasuk untuk mendapatkan raket dan shuttlecock. Entah dari mana, tiba-tiba suatu hari orang tua saya menghadiahkan barang yang saya idam-idamkan tersebut. Katanya sih dari sesorang. Raketnya tidak baru, tetapi shuttlecocknya baru. Saya bersyukur dan berterimakasih sekali.
Dengan penuh kebanggaan, saya membawa raket dan shuttlecock itu ke sekolah pada saat jam pelajaran. Dan agak beda dengan biasanya, setelah pemanasan... dengan bangga saya masuk kelompok bulutangkis. Entah kenapa tiba-tiba Pak Santo menarik tangan saya,
"Kembali ke sana!"
Dia menunjuk ke lapangan Voli.
"Tapi, Pak!"
Belum sempat saya jawab, dia sudah memukul punggung saya. Padahal saya belum jelaskan apa-apa.
"Kalau ga punya raket jangan di sini. Kere aja mau lagak punya."
Saya sudah keburu ketakutan dan merasa sakit di punggungku. Entah dia tahu apa tidak kalau saya sebenarnya menangis dalam hati. Begitu menyakitkan jadi orang miskin. Dia tak percaya kalu saya mampu punya raket dan shuttlecock.
Semenjak itu saya sangat membencinya.... dan saya sukar melupakan bayangan wajahnya saat itu. Matanya melotot dengan bertolak pinggang dbalut kaos tanpa lengan berwarna merah.
Tapi aku telah memaafkannya... dan ketika saya pindah ke Jakarta. Saya ceritakan semuanya... dan malahan saya berterimakasih dan minta doakan agar saya bisa menjadi orang yang kaya dan tidak dihina lagi.
Terima kasih Pak Santo.
Bapak J. Soesanto
Pada saat kelas VI SD, wali kelas saya adalah Bapak Soesanto. Kabar terakhir dia sudah dipanggil Tuhan beberapa tahun silam. Semoga Tuhan melapangkan jalan-Nya hingga dapat sampai pintu surga.
Banyak kenangan manis dan kenangan pahit dengan Pak Santo, demikian panggilannya. Saya masih ingat profilnya... gemuk pendek dan berkumis lebat. Sukanya pelajaran Matematika (waktu itu berhitung) dan Olah raga. Waktu itu belum seperti sekarang, wali kelas merangkap guru serba bisa... mengampu semua mata pelajaran.
Sebenarnya saya menyukai beliau, karena dia punya kesamaan dengan saya... tidak dapat menyanyi, sehingga selama setahun menjadi wali kelas, belum pernah sekalipun mengajarkan seni suara. Hal ini yang menyenangkan diri saya...
Hal lain yang menyenangkan... mungkin sama lagi, dia menyukai pelajaran matematika. Sehingga setiap hari ada matematika... dan ini sangat menyenangkan bagi saya. Mungkin ini salah satu faktor yang membuat saya menyukai matematika.
Terus hal yang tidak menyenangkan apa? Banyak sekali... tapi kalu saya ungkapkan di sini bukan berarti berniat mengungkap kejelekannya, tapi justru merupakan refleksi saya sebagai guru.
Pertama dan yang utama yang dulunya membuatku sangat membencinya adalah karena dia pernah memukul punggungku sehingga punggungku memar tanpa tahu apa kesalahanku. Cerita mengenai hal ini akan saya tuliskan pada kesempatan lain, karena kalau di sini akan jadi panjang lebar. Lengkapnya dapat klik pada tulisan: Pada Pelajaran Olah Raga.
Kedua, dia berlaku tidak adil. Saya bisa katakan ini karena memang dia berlaku tidak adil dengan saya dan beberapa teman saya yang lain. Tetapi kami tak mampu berbuat apa-apa dan hanya bisa menerima keadaan ini.
Ketiga, dia menghalangi kreativitasku untuk menggambar. Salah satu kesenangan saya dulu adalah menggambar. Tetapi sama seperti seni suara, dia juga tak menyukai pelajaran menggambar sehingga tak ada pelajaran menggambar selama setahun.
Demikian hal-hal yang tidak menyenangkan yang pernah saya alami. Semoga ini menjadi refleksi bagi saya selama jadi guru. Semoga saya tidak melakukan kekerasan kepada anak didikku, berlaku adil dan tidak menghalangi kreativitas anak didikku.
Bapak Ag. Suhadi
Masih seputar lagu... saya teringat kenangan saat kelas IV dan V SD. Saat itu wali kelas saya adalah Pak Suhadi, tapi lebih sering saya sebut "Ag" yang nama depannya sama dengan nama saya...Pak Suhadi ini bagi saya guru yang menyenangkan juga menyebalkan... dan memang semua orang punya sisi baik dan sisi buruknya... tapi walau begitu, pada saat menyebalkan pun saya jadikan sebagai situasi yang menyenangkan.
Saya akan ceritakan dulu situasi yang menyenangkan dulu. Dia mengajar di kelas IV adalah guru IPA dan Seni Suara. Tentunya menyenangkan kalau mengajar IPA. Menyenangkan karena dia membebaskan siswa-siswanya mencatat kalau memng pelajaran yang diterangkannya sudah dimengerti. Karena saya memang senang membaca maka apa yang diterangkannya bukan merupakan hal baru bagi saya, jadi nggak perlu dicatat. Dan ternyata pada saat ulangan nilai saya selalu bagus.
Pelajaran IPA di SD Xaverius III Palembang tempat saya belajar dulu, dibagi dua bagian: Ilmu Hewan dan Ilmu Tumbuh-tumbuhan. Dan buku catatannya boleh disatukan dalam satu buku. Bagian ilmu hewan dari depan sedangkan ilmu tumbuh-tumbuhan dari tengah. Dengan bebas mencatat memang sangat menyenangkan karena bebas dari capek dan tidak menghabiskan kertas dan ballpoint. Jadi tidak usah heran kalau buku tipis yang saya sediakan tidak pernah habis terpakai.
Untuk pelajaran seni suara terbagi dalam pelajaran teori dan praktek, bergantian tiap minggu. Bila minggu ini teori maka minggu depan praktek. Untuk teori mempelajari not balok dan praktek bisanya menyanyi bergantian. Pada saat menyanyi bergantian, saya selalu tahu diri untuk keluar kelas. Mulanya sih saya diusir karena tidak mau menyanyi depan kelas, tetapi selanjutnya tahu diri keluar sebelum diusir.
Di luar kelas sangat menyenangkan karena dapat melihat teman-teman kelas lain yang sedang bermain bola pada jam olah raga. Hal ini bagi saya adalah hal yang menyebalkan tetapi saya anggap menyenangkan. Keadaan ini berlaku hingga kelas V SD.
Walau tidak pernah ikut praktek tetapi nilai pelajaran Seni Suara lumayan baik. Hal ini karena pada nilai teori selalu mendapat nilai terbaik. Tetapi ini bukan tanpa usaha... pernah pak Suhadi memberi saya nilai jelek, tapi saya protes. Kira-kira begini:
Saya menghadap Pak Suhadi dan tanya, "Pak koq nilai saya jelek"
"Habis tidak pernah mau nyanyi."
"Kan ga bisa pak"
"Ya jangan berharap nilai bagus."
"Tapi bapak kan juga selalu pinjam buku saya."
Memang saya punya catatan yang lengkap dan kalau dia mau ngasi catatan di kelas lain selalu buku saya yang dipinjam.
Semanjak itu saya dapat nilai lumayan baik... dan bagi saya tetap saling menguntungkan. Terimakasih Pak Suhadi.
Lagu Kenangan
Suatu saat, pada saat akan memulai pelajaran... anak-anak minta saya menyanyi... Aku bingung mesti nyanyi apa karena jujur saja emang saya nggak bisa menyanyi. Dan otomatis saya tidak punya lagu favorit. tetapi bukan berarti saya tidak menyukai lagu. Saya menyukai dan dapat menikmati hampir semua lagu yang didengar.Anak-anak minta lagu mungkin sehubungan tugas dari Mr. Keith, Native Speakernya, dan saya pun mendapat tugas yang serupa dan seharusnya sudah harus siap kemarin (11 September 2009). Tetapi kemarin masih bisa mangkir nggak masuk les Inggris dengan alasan harus mendampingi XII IPA 1 dan XII IPA 2 latihan misa.
Saya ingat kembali masa lalu tentang lagu... semenjak kelas 1 SD saya hanya hapal dan mau menyanyikan satu lagu. Apakah ini lagu favorit?
Surat kubawa naik sepeda
siapa saja aku layani tidak kupilih
miskin dan kaya
Kring kring pos
Saya tidak ingat persis kenapa menyukai lagu di atas? Mungkin karena pendek. Tetapi mungkin juga karena saya melihat tukang pos saat itu adalah pekerjaan mulia. Dan yang jelas pada saat SMP dan SMA serta waktu kuliah... saya banyak tergantung tukang pos yang selalu berjasa mengantar wesel buat saya hasil tulisan-tulisan saya di media massa...
Jumat, 09 Mei 2008
Kekuatan Maaf
Di balik cerita Pedonor sumsum tulang belakang dan pelaku pemerkosaan.Ayah kandungnya merupakan satu-satunya penyambung harapan hidupnya. Berharap agar pelaku pada waktu itu saat melihat berita ini, bersedia menghubungi Dr. Adely di RS Elisabeth. Berita pencarian orang ini membuat seluruh masyarakat gempar. Setiap orang membicarakannya. Masalahnya adalah apakah orang hitam ini berani muncul. Padahal jelas ia akan menghadapi kesulitan besar.
Jika ia berani muncul, ia akan menghadapi masalah hukum, dan ada kemungkinan merusak kehidupan rumah tangganya sendiri. Jika ia tetap bersikeras untuk diam,ia sekali lagi membuat dosa yang tak terampuni.
Kisah ini akan berakhir bagaimanakah? Seorang anak perempuan yang menderita leukimia ternyata menyimpan suatu kisah yang memalukan di suatu perkampungan Itali.
Martha, 35 thn, adalah wanita yang menjadi pembicaraan semua orang. Ia dan suaminya Peterson adalah warga kulit putih, tetapi diantara kedua anaknya, ternyata terdapat satu yang berkulit hitam. Hal ini menarik perhatian setiap orang disekitar mereka untuk bertanya, Martha hanya tersenyum kecil berkata pada mereka bahwa nenek berkulit hitam, dan kakeknya berkulit putih, maka anaknya Monika mendapat kemungkinan seperti ini.
Musim gugur 2002, Monika yang berkulit hitam terus menerus mengalami demam tinggi. Terakhir, Dr. Adely memvonis Monika menderita leukimia. "Harapan satu-satunya hanyalah mencari pedonor sumsum tulang belakang yang paling cocok untuknya"
Dokter menjelaskan lebih lanjut. "Di antara mereka yang ada hubungan darah dengan Monika merupakan cara yang paling mudah untuk menemukan pedonor tercocok. Harap seluruh anggota keluarga kalian berkumpul untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang."
Raut wajah Martha berubah, tapi tetap saja seluruh keluarga menjalani pemeriksaan. Hasilnya tak satupun yang cocok. Dokter memberitahu mereka, dalam kasus seperti Monika ini, mencari pedonor yang cocok sangatlah kecil kemungkinannya. Sekarang hanya ada satu cara yang paling manjur, yaitu Martha dan suaminya kembali mengandung anak lagi. Dan mendonorkan darah anak untuk Monika. Mendengar usul ini Martha tiba-tiba menjadi panik, dan berkata tanpa suara "Tuhan..kenapa menjadi begini ?"
Ia menatap suaminya, sinar matanya dipenuhi ketakutan dan putus asa. Peterson mengerutkan keningnya berpikir. Dr. Adely berusaha menjelaskan pada mereka, "saat ini banyak orang yang menggunakan cara ini untuk menolong nyawa para penderita leukimia, lagi pula cara ini terhadap bayi yang baru dilahirkan sama sekali tak ada pengaruhnya." Hal ini hanya didengarkan oleh pasangan suami istri tersebut, dan termenung begitu lama. Terakhir mereka hanya berkata, "Biarkan kami memikirkannya kembali."
Malam kedua, Dr. Adely tengah bergiliran tugas, tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka, pasangan suami-istri tersebut. Martha menggigit bibirnya keras, suaminya Peterson, menggenggam tangannya, dan berkata serius pada dokter. "Kami ada suatu hal yang perlu memberitahumu. Tapi harap Anda berjanji untuk menjaga kerahasiaan ini, karena ini merupakan rahasia kami suami-istri selama beberapa tahun." Dr. Adely menganggukkan kepalanya. Lalu mereka menceritakan: "10 tahun lalu, Martha ketika pulang kerja telah diperkosa seorang remaja berkulit hitam. Saat Martha sadar, dan pulang ke rumah dengan tergesa-gesa, waktu telah menunjukkan pukul 1 malam. Waktu itu aku bagaikan gila keluar rumah mencari orang hitam itu untuk membuat perhitungan. Tapi telah tak ada bayangan orang satupun. Malam itu kami hanya dapat memeluk kepala masing-masing menahan kepedihan. Sepertinya seluruh langit runtuh."
Bicara sampai sini, Peterson telah dibanjiri air mata, Ia melanjutkan kembali . "Tak lama kemudian Martha mendapati dirinya hamil. Kami merasa sangat ketakutan, kuatir bila anak yang dikandungnya merupakan milik orang hitam tersebut. Martha berencana untuk menggugurkannya, tapi aku masih mengharapkan keberuntungan, mungkin anak yang dikandungnya adalah bayi kami. Begitulah, kamiketakutan menunggu beberapa bulan.
Maret 1993, Martha melahirkan bayi perempuan, dan ia berkulit hitam. Kami begitu putus asa, pernah terpikir untuk mengirim sang anak ke panti asuhan. Tapi mendengar suara tangisnya, kami sungguh tak tega. Terlebih lagi bagaimanapun Martha telah mengandungnya, ia juga merupakan sebuah nyawa. Aku dan Martha merupakan warga Kristen yang taat, pada akhirnya kami memutuskan untuk memeliharanya, dan memberinya nama Monika."
Mata Dr. Adely juga digenangi air mata, pada akhirnya ia memahami kenapa bagi kedua suami istri tersebut kembali mengandung anak merupakan hal yang sangat mengkuatirkan. Ia berpikir sambil mengangguk-anggukkan kepala berkata "Memang jika demikian, kalian melahirkan 10 anak sekalipun akan sulit untuk mendapatkan donor yang cocok untuk Monika."
Beberapa lama kemudian,ia memandang Martha dan berkata "Kelihatannya, kalian harus
mencari ayah kandung Monika. Barangkali sumsum tulangnya cocok untuk Monika. Tetapi, apakah kalian bersedia membiarkan ia kembali muncul dalam kehidupan kalian?"
Martha berkata: "Demi anak, aku bersedia berlapang dada memaafkannya. Bila ia bersedia muncul menyelamatkannya. Aku tak akan memperkarakannya." Dr. Adely merasa terkejut akan kedalaman cinta sang ibu. Martha dan Peterson mempertimbangkannya baik-baik, sebelum akhirnya memutuskan memuat berita pencarian ini di koran dengan menggunakan nama samaran. November 2002, di koran Wayeli termuat berita pencarian ini, seperti yang digambarkan sebelumnya. Berita ini memohon sang pelaku pemerkosaan waktu itu berani muncul, demi untuk menolong sebuah nyawa seorang anak perempuan penderita leukimia! Begitu berita ini keluar, tanggapan masyarakat begitu menggemparkan. Kotak surat dan telepon Dr. Adely bagaikan meledak saja, kebanjiran surat masuk dan telepon, orang-orang terus bertanya siapakah wanita ini. Mereka ingin bertemu dengannya, berharap dapat memberikan bantuan padanya. Tetapi Martha menolak semua perhatian mereka, ia tak ingin mengungkapkan identitas sebenarnya, lebih tak ingin lagi identitas Monika sebagai anak hasil pemerkosaan terungkap. Seluruh media penuh dengan diskusi tentang bagaimana cerita ini berakhir.
Orang hitam itu akan munculkah?
Jika orang hitam ini berani muncul, akan bagaimanakah masyarakat kita
sekarang menilainya?
Akankah menggunakan hukum yang berlaku untuk menghakiminya Haruskah ia menerima hukuman dan cacian untuk masa lalunya, ataukah ia harus menerima pujian karena keberaniannya hari ini? Saat itu berita pencarian juga muncul di Napulese, memporakporandakan perasaan seorang pengelola toko minuman keras berusia 30 tahun. Ia seorang kulit hitam, bernama Ajili. 17 Mei 1992 waktu itu, ia memiliki lembaran terkelam merupakan mimpi terburuknya di malam berhujan itu. Ia adalah sang peran utama dalam kisah ini. Tak seorangpun menyangka, Ajili yang sangat kaya raya itu, pernah bekerja
sebagai pencuci piring panggilan.
Dikarenakan orang tuanya telah meninggal sejak ia masih muda, ia yang tak pernah mengenyam dunia pendidikan terpaksa bekerja sejak dini. Ia yang begitu pandai dan cekatan, berharap dirinya sendiri bekerja dengan giat demi mendapatkan sedikit uang dan penghargaan dari orang lain. Tapi sialnya, bosnya merupakan seorang rasialis, yang selalu mendiskriminasikannya. Tak peduli segiat apapun dirinya, selalu memukul dan memakinya. 17 Mei 1992, merupakan ulang tahunnya ke 20, ia berencana untuk pulang kerja lebih awal merayakan hari ulang tahunnya. Siapa menyangka, ditengah kesibukan ia memecahkan sebuah piring. Sang bos menahan kepalanya, memaksanya untuk menelan pecahan piring. Ajili begitu marah dan memukul sang bos, lalu berlari keluar meninggalkan restoran. Di tengah kemarahannya ia bertekad untuk membalas dendam pada si kulit putih. Malam berhujan lebat, tiada seorangpun lewat, dan di parkiran ia bertemu Martha. Untuk membalaskan dendamnya akibat pendiskriminasian, ia pun memperkosa sang wanita yang tak berdosa ini.
Tapi selesai melakukannya, Ajili mulai panik dan ketakutan. alam itu juga Ia menggunakan uang ulang tahunnya untuk membeli tiket KA menuju Napulese, meninggalkan kota ini.Di Napulese, ia bertemu keberuntungannya. Ajili mendapatkan pekerjaan dengan lancar restoran milik orang Amerika. Kedua pasangan Amerika ini sangatlah mengagumi kemampuannya, dan penikahkannya dengan anak perempuan mereka, Lina, dan pada akhirnya juga mempercayainya untuk mengelola toko mereka.
Beberapa tahun ini, ia yang begitu tangkas,tak hanya memajukan bisnis toko minuman keras ini, ia juga memiliki 3 anak yang lucu. Di mata pekerja lainnya dan seluruh anggota keluarga, Ajili merupakan bos yang baik, suami yang baik, ayah yang baik. Tapi hati nuraninya tetap membuatnya tak melupakan dosa yang pernah diperbuatnya. Ia selalu memohon ampun pada Tuhan dan berharap Tuhan melindungi wanita yang pernah diperkosanya, berharap ia selalu hidup damai dan tentram. Tapi ia menyimpan rahasianya rapat-rapat, tak memberitahu seorangpun.
Pagi hari itu, Ajili berkali-kali membolak-balik koran, ia terus mempertimbangkan kemungkinan dirinyalah pelaku yang dimaksud. Sedikitpun ia tak pernah membayangkan bahwa wanita malangitu mengandung anaknya, bahkan menanggung tanggung jawab untuk memelihara dan menjaga anak yang awalnya bukanlah miliknya. Hari itu, Ajili beberapa kali mencoba menghubungi no.Telepon Dr.Adely. Tapi setiap kali, belum sempat menekan habis tombol telepon, ia telah menutupnya kembali. Hatinya terus bertentangan, bila ia bersedia mengakui semuanya, setiap orang kelak akan mengetahui sisi terburuknya ini, anak-anaknya tak akan lagi mencintainya, ia akan kehilangan keluarganya yang bahagia dan istrinya yang cantik. Juga akan kehilangan penghormatan masyarakat disekitarnya. Semua yang ia dapatkan dengan ditukar kerja kerasnya bertahun-tahun.
Malam itu, saat makan bersama, seluruh keluarga mendiskusikan kasus Martha. Sang istri, Lina berkata: "Aku sangat mengagumi Martha. Bila aku diposisinya, aku tak akan memiliki keberanian untuk memelihara anak hasil perkosaan hingga dewasa. Aku lebih mengagumi lagi suami Martha, ia sungguh pria yang patut dihormati, tak disangka ia dapat menerima anak yang
demikian." Ajili termenung mendengarkan pendapat istrinya, dan tiba-tiba mengajukan pertanyaan: "Kalau begitu, bagaimana kau memandang pelaku pemerkosaan itu ?"
"Sedikitpun aku tak akan memaafkannya !!! Waktu itu ia sudah membuat kesalahan, kali ini juga hanya dapat meringkuk menyelingkupi dirinya sendiri, ia benar-benar begitu rendah, begitu egois, begitu pengecut ! Iabenar-benar seorang pengecut !" demikian istrinya menjawab dengan dipenuhi api kemarahan. Ajili mendengarkan saja, tak berani mengatakan kenyataan pada istrinya.
Malam itu, anaknya yang baru berusia 5 tahun begitu rewel tak bersedia tidur, untuk pertama kalinya Ajili kehilangan kesabaran dan menamparnya. Sang anak sambil menangis berkata :"Kau ayah yang jahat, aku tak mau peduli kamu lagi. Aku tak ingin kau menjadi ayahku". Hati Ajili bagai terpukul keras mendengarnya, ia pun memeluk erat-erat sang anak dan berkata: "Maaf, ayah tak akan memukulmu lagi. Ayah yang salah, maafkan papa ya."
Sampai sini, Ajili pun tiba-tiba menangis. Sang anak terkejut dibuatnya, dan buru-buru berkata padanya untuk menenangkan ayahnya: "Baiklah, kumaafkan. Guru TK ku bilang, anak yang baik adalah anak yang mau memperbaiki kesalahannya."Malam itu, Ajili tak dapat terlelap, merasa dirinya bagaikan terbakar dalam neraka. Di matanya selalu terbayang kejadian
malam berhujan deras itu, dan bayangan sang wanita. Ia sepertinya dapat mendengarkan jerit tangis wanita itu. Tak henti-hentinya ia bertanya pada dirinya sendiri: "Aku ini sebenarnya orang baik, atau orang jahat ?"
Mendengar bunyi napas istrinya yang teratur, ia pun kehilangan seluruh keberaniannya untuk berdiri. Hari kedua, ia hampir tak tahan lagi rasanya.Istrinya mulai merasakan adanya ketidakberesan pada dirinya, memberikan perhatian padanya dengan menanyakan apakah ada masalah Dan ia mencari alasan tak enak badan untuk meloloskan dirinya. Pagi hari di jam kerja, sang karyawan menyapanya ramah: "Selamat pagi, manager!" Mendengar itu, wajahnya tiba-tiba menjadi pucat pasi, dalam hati dipenuhi perasaan tak menentu dan rasa malu. Ia merasa dirinya hampir menjadi gila saja rasanya. Setelah berhari-hari memeriksa hati nuraninya, Ajili tak dapat lagi terus diam saja, iapun menelepon Dr. Adely. Ia berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya supaya tetap tenang: "Aku ingin mengetahui keadaan anak malang itu."
Dr. Adely memberitahunya, keadaan sang anak sangat parah. Dr.Adely menambahkan kalimat terakhirnya berkata: "Entah apa ia dapat menunggu hari kemunculan ayah kandungnya." Kalimat terakhir ini menyentuh hati Ajili yang paling dalam, suatu perasaan hangat sebagai sang ayah mengalir keluar, bagaimanapun anak itu juga merupakan darah dagingnya sendiri ! Ia pun membulatkan tekad untuk menolong Monika. Ia telah melakukan kesalahan sekali, tak boleh kembali membiarkan dirinya meneruskan kesalahan ini. Malam hari itu juga, ia pun mengobarkan keberaniannya sendiri untuk memberitahu sang istri tentang segala rahasianya. Terakhir ia berkata : "Sangatlah mungkin bahwa aku adalah ayah Monika. Aku harus menyelamatkannya." Lina sangat terkejut, marah dan terluka, mendengar semuanya, ia berteriak marah: "Kau PEMBOHONG !"
Malam itu juga ia membawa ketiga anak mereka, dan lari pulang ke rumah ayah ibunya. Ketika ia memberitahu mereka tentang kisah Ajili, kemarahan kedua suami-istri tersebut dengan segera mereda. Mereka adalah dua orang tua yang penuh pengalaman hidup, mereka menasehatinya : "Memang benar, kita patut marah terhadap segala tingkah laku Ajili di masa lalu. Tapi pernahkah kamu memikirkan, ia dapat mengulurkan dirinya untuk muncul, perlu berapa banyak keberanian besar. Hal ini membuktikan bahwa hati nuraninya belum sepenuhnya terkubur. Apakah kau mengharapkan seorang suami yang pernah melakukan kesalahan tapi kini tersedia memperbaiki dirinya, ataukah seorang suami yang selamanya menyimpan kebusukan ini didalamnya?" Mendengar ini Lina terpekur beberapa lama.
Pagi-pagi di hari kedua, ia langsung kembali ke sisi Ajili, menatap mata sang suami yang dipenuhi penderitaan, Lina menetapkan hatinya berkata: "Ajili,pergilah menemui Dr. Adely ! Aku akan menemanimu!"
3 Februari 2003, suami istri Ajili, menghubungi Dr. Adely. 8 Februari, pasangan tersebut tiba di RS Elisabeth, demi untuk pemeriksaan DNA Ajili. Hasilnya Ajili benar-benar adalah ayah Monika. Ketika Martha mengetahui bahwa orang hitam pemerkosanya itu pada akhirnya berani memunculkan dirinya, ia pun tak dapat menahan air matanya. Sepuluh tahun ini ia terus memendam dendam kesumat terhadap Ajili, namun saat ini ia hanya dipenuhi perasaan terharu. Segalanya berlangsung dalam keheningan. Demi untuk melindungi pasangan Ajili dan pasangan Martha, pihak RS tidak mengungkapkan dengan jelas identitas mereka semua pada media, dan juga tak bersedia mengungkapkan keadaan sebenarnya, mereka hanya memberitahu media bahwa ayah kandung Monika telah ditemukan. Berita ini mengejutkan seluruh pemerhati berita ini. Mereka terus-menerus menelepon, menulis surat pada Dr. Adely, memohon untuk dapat menyampaikan kemarahan mereka pada orang hitam ini, sekaligus penghormatan mereka padanya. Mereka berpendapat: "Barangkali ia pernah melakukan tindak pidana, namun saat ini ia seorang pahlawan !"
10 Februari, kedua pasangan Martha dan suami memohon untuk dapat bertemu muka langsung dengan Ajili. Awalnya Ajili tak berani untuk menemui mereka, namun pada permohonan ketiga Martha, iapun menyetujui hal ini. 18 Februari, dalam ruang tertutup dan dirahasiakan di RS, Martha bertemu langsung dengan Ajili.
Ajili baru saja memangkas rambutnya, saat ia melihat Martha, langkah kakinya terasa sangatlah berat, raut wajahnya memucat. Martha dan suaminya melangkah maju, dan mereka bersama-sama saling menjabat tangan masing-masing, sesaat ketiga orang tersebut diam tanpa suara menahan kepedihan, sebelum akhirnya air mata mereka bersama-sama mengalir.
Beberapa waktu kemudian, dengan suara serak Ajili berkata: "Maaf...mohon maafkanku! Kalimat ini telah terpendam dalam hatiku selama 10 tahun. Hari ini akhirnya aku mendapat kesempatan untuk mengatakannya langsung kepadamu." Martha menjawab :"Terima kasih kau dapat muncul. Semoga Tuhan memberkati, sehingga sumsum tulang belakangmu dapat menolong putriku". 19 Februari, dokter melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang Ajili. Untungnya, sumsum tulang belakangnya sangat cocok bagi Monika. Sang dokter berkata dengan antusias : "Ini suatu keajaiban !"
22 Februari 2003, sekian lama harapan masyarakat luas akhirnya terkabulkan. Monika menerima sumsum tulang belakang Ajili, dan pada akhirnya Monika telah melewati masa kritis. Satu minggu kemudian, Monika boleh keluar RS dengan sehat walafiat. Martha dan suami memaafkan Ajili sepenuhnya, dan secara khusus mengundang Ajili dan Dr. Adely datang kerumah mereka untuk merayakannya. Tapi hari itu Ajili tidak hadir, ia memohon Dr. Adely membawa suratnya bagi mereka. Dalam suratnya ia menyatakan penyesalan dan rasa malunya berkata :"Aku tak ingin kembali mengganggu kehidupan tenang kalian. Aku berharap Monika berbahagia selalu hidup dan tumbuh dewasa bersama kalian. Bila kalian menghadapi kesulitan bagaimanapun, harap hubungi aku, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu kalian".
"Saat ini juga, aku sangat berterima kasih pada Monika, dari dalam lubuk hatiku terdalam, dialah yang memberiku kesempatan untuk menebus dosa. Dialah yang membuatku dapat memiliki kehidupan yang benar-benar bahagia di saparuh usiaku selanjutnya. Ini adalah hadiah yang ia berikan padaku !" ( Italia post)
Yang menjadi bahan renungan aku dari cerita ini : Jika pada saatnya Tuhan membuka kesempatan bagi aku untuk meminta maaf atas segala dosa-dosaku, apakah aku akan berani seperti Ajili ini untuk mengakui semua dosa-dosaku, walaupun dengan taruhan aku akan kehilangan semuanya. Tuhan itu begitu baik ... pada saat Dia mengetahui bahwa kita masih menderita akan dosa-dosa masa lalu kita, Dia membuka jalan bagi kita untuk meminta maaf dan membersihkan hati kita, yang memungkinkan kita untuk menyambut masa depan tanpa ada rasa terbeban lagi dalam hati kita.
Kiriman: Agnes