#pentigraf_lepas
Yoyun Comes Back (43)
NOSTALGIA YOYUN
Hery Sujatmo
Waktu masih menunjukkan pukul 03.00 WIB, Yoyun baru sampai di Stasiun Tegal kota tercinta. Matanya masih terasa berat, suara peluit dan pemberitahuan petugas melalui pengeras suara membangunkan Yoyun dari mimpinya. Dengan langkah berat Yoyun turun dari kereta. Jam 03.00 WIB ternyata denyut nadi kehidupan di Stasiun Tegal sudah ramai sekali. Pedagang olos pun sudah sibuk melayani pembeli. Merasa lapar Yoyun pun memanggil penjual olos, lumayan untuk mengganjal perut yang lapar, pikirnya. Ternyata harganya tidak terlalu mahal, masih lima ratus rupian. Di sudut pintu keluar terdapat warung teh poci khas dari kota Tegal.
Pikiran Yoyun melayang 20 tahun yang lalu. Stasiun Kereta api masih sepi kalau jam segini, sambil duduk manis menikmati olos dan teh poci hangat. Terbayang pula ketika masa SMA banyak kenangan di stasiun ini, bersama teman-temannya dia pernah mengamen hanya untuk bisa beli tiket ke Semarang, ketika dia mendapat kabar diterima di Universitas Diponegoro. Setiap pulang sekolah dia dan satu geng ramai-ramai ke stasiun membawa alat seadanya, maklum sekolah Yoyun hanya beberapa blok dari stasiun. Alat yang paling mahal pun sebuah gitar. Itu pun beli di loakan pinggir jalan. Mulai menjalankan aksinya mengamen dilakukan dari kelas 2 SMA. Bahkan ada kenangan manis dia pernah di tangkap satpam karena dikira copet karena perawakan dan jaket yang dikenakan Yoyun waktu itu mirip sekali dengan pencopet. Untung teman-temannya keburu datang dan meyakinkan satpam bahwa Yoyun bukan copet.
Ada beberapa perubahan yang ada di Sekitar Stasiun Tegal. Telah banyak berdiri kios berjajar tertata rapi yang dulunya hanya warung-warung sederhana. Kendaraan pun banyak pilihan, dulu hanya ada ojeg pangkalan dan becak saja. Di Stasiun ini juga kenangan manis tercipta ketika dia liburan semesteran bertemu dengan seorang gadis manis namanya Marni, waktu itu sama sama menunggu kereta api, tujuan pun sama ke Semarang. Ternyata dia juga mau kuliah di Undip, bedanya dia baru masuk. “Mas sudah dari tadi ya. Dari tadi di telpon gak diangkat- angkat, eh ternyata sedang ngalamun di sini,” katanya sambil berniat membawakan barang bawaan Yoyun. Itulah Marni yang sekarang menjadi istri tercinta. Yoyun pun menuju mobil sambil merangkul istrinya. Di mobil sudah menunggu Farhan anak semata wayangnya yang sekarang sudah beranjak dewasa. Saat ingin melangkah dan memeluknya, Yoyun terjatuh. Dia kaget! Saat matanya membuka dia ada di kolong tempat tidur. Ternyata dia hanya bermimpi.
#yoyuncomesback
Penulis yang sudah berpartisipasi
Agust Wahyu, Robertus Sutartomo, Genoveva Dian, Albertha Tirta, Bun Siaw Yen, Jenny Seputro, Budi Hantara, Agustinus Warsito, Merry Srifatmadewi, Agnes Kinasih, Waty Sumiaty Halim, Sylvia Marsidi, Ken Agnibaya, Theresia, Agusanna Ernest, Nita Anita, Yosep Yuniarto, Galuh Purwaningdyah, Nunik Tyas, Yanie Wuryandari, Hery Sujatmo
Catatan:
Pentigraf atau penagraf ini merupakan cerita lepas judul " Yoyun Comes Back" yang menghadirkan tokoh utama Yoyun, laki-laki sederhana dan lugu dari pinggiran kota Tegal.
Siapa saja boleh menyumbangkan tulisan di sini, tentunya dengan pesan-pesan positif yang menyejukkan.
Pentigraf atau penagraf dapat dikemas dengan sedih, humor, dan sebagainya.
Bagi yang beminat dapat dikirim lewat inboks ke Agust Wahyu jangan lupa paling bawah tulis #yoyuncomesback
Semua karya akan diedit/direvisi penulis bila ada kekurangan dengan beberapa masukan dari Agust Wahyu dan teman-teman sekalian
Bagi Anda yang ingin membaca lengkap pentigraf atau penagraf lepas ini dapat dilihat di https://anggrek-white.blogspot.com/
Salam Literasi
Rabu, 12 Juni 2019
Selasa, 11 Juni 2019
Yoyun Comes Back (42)
#pentigraf_lepas
Yoyun Comes Back (42)
NAIK KELAS
Ken Agnibaya
"Wah, kamu jadi sopir pribadi Yun?" Ucapan Cik Jenny tadi siang cukup menohok perasaan Yoyun. Kerja kerasnya di Jakarta untuk membeli mobil ternyata tak menaikkan kelasnya. Yoyun pulang dan berkaca. Lama sekali dia mengamati apa yang kurang dari dirinya. Wajahnya klimis dan cukup ganteng, senyum cukup menawan, dan akhirnya wajahnya kecut. Akhirnya Yoyun menemukan penyebabnya; tubuh kerempeng.
Sejak itu Yoyun berusaha meminimalisir bertemu orang-orang. Dia membeli berbagai macam alat olahraga yang bisa mengubah bentuk tubuhnya. Selain berolah raga, Yoyun juga menambah frekuensi makan menjadi 5-6 kali, mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat dan protein, dan konsumsi multivitamin, terutama vitamin B yang sangat membantu proses mencerna nutrisi yang dia makan. Yoyun harus muncul dengan tampilan yang baru. Untuk itu, dia harus mengabaikan emaknya yang teriak-teriak karena persediaan telur dan makanan di dapur cepat habis.
Selang tiga bulan, Yoyun pergi ke pasar, tempat di mana Cik Jenny mengucapkan sesuatu yang melukai hatinya dulu. Yoyun menggunakan kaos tanpa lengan dipadu celana jins belel sobek-sobek. Semua dia konsep agar tubuh berotot hasil latihan selama menghilang dapat dipamerkan. Kurang apa lagi? Mobil ada, badan atletis pula. Pasti dia sudah naik kelas sebagai orang kaya. Setidaknya dia dapat membuktikan pada Cik Jenny yang mengiranya sebagai sopir pribadi. Dengan langkah tegap dan mantap Yoyun menuju ke arah kios Cik Jenny. Belum sampai kios, tampak seorang ibu setengah baya yang kerepotan dengan belanjaan di kedua tangannya. Dengan sumringah sang ibu berteriak ke arah Yoyun, "Wah, kebetulan banget. Dik, itu tiga karung beras ibu di kios Cik Jenny angkut ke pick up merah ya!"
#yoyuncomesback
Penulis yang sudah berpartisipasi
Agust Wahyu, Robertus Sutartomo, Genoveva Dian, Albertha Tirta, Bun Siaw Yen, Jenny Seputro, Budi Hantara, Agustinus Warsito, Merry Srifatmadewi, Agnes Kinasih, Waty Sumiaty Halim, Sylvia Marsidi, Ken Agnibaya, Theresia, Agusanna Ernest, Nita Anita, Yosep Yuniarto, Galuh Purwaningdyah, Nunik Tyas, Yanie Wuryandari
Catatan:
Pentigraf atau penagraf ini merupakan cerita lepas judul " Yoyun Comes Back" yang menghadirkan tokoh utama Yoyun, laki-laki sederhana dan lugu dari pinggiran kota Tegal.
Siapa saja boleh menyumbangkan tulisan di sini, tentunya dengan pesan-pesan positif yang menyejukkan.
Pentigraf atau penagraf dapat dikemas dengan sedih, humor, dan sebagainya.
Bagi yang beminat dapat dikirim lewat inboks ke Agust Wahyu jangan lupa paling bawah tulis #yoyuncomesback
Semua karya akan diedit/direvisi penulis bila ada kekurangan dengan beberapa masukan dari Agust Wahyu dan teman-teman sekalian
Bagi Anda yang ingin membaca lengkap pentigraf atau penagraf lepas ini dapat dilihat di https://anggrek-white.blogspot.com/
Salam Literasi
Yoyun Comes Back (42)
NAIK KELAS
Ken Agnibaya
"Wah, kamu jadi sopir pribadi Yun?" Ucapan Cik Jenny tadi siang cukup menohok perasaan Yoyun. Kerja kerasnya di Jakarta untuk membeli mobil ternyata tak menaikkan kelasnya. Yoyun pulang dan berkaca. Lama sekali dia mengamati apa yang kurang dari dirinya. Wajahnya klimis dan cukup ganteng, senyum cukup menawan, dan akhirnya wajahnya kecut. Akhirnya Yoyun menemukan penyebabnya; tubuh kerempeng.
Sejak itu Yoyun berusaha meminimalisir bertemu orang-orang. Dia membeli berbagai macam alat olahraga yang bisa mengubah bentuk tubuhnya. Selain berolah raga, Yoyun juga menambah frekuensi makan menjadi 5-6 kali, mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat dan protein, dan konsumsi multivitamin, terutama vitamin B yang sangat membantu proses mencerna nutrisi yang dia makan. Yoyun harus muncul dengan tampilan yang baru. Untuk itu, dia harus mengabaikan emaknya yang teriak-teriak karena persediaan telur dan makanan di dapur cepat habis.
Selang tiga bulan, Yoyun pergi ke pasar, tempat di mana Cik Jenny mengucapkan sesuatu yang melukai hatinya dulu. Yoyun menggunakan kaos tanpa lengan dipadu celana jins belel sobek-sobek. Semua dia konsep agar tubuh berotot hasil latihan selama menghilang dapat dipamerkan. Kurang apa lagi? Mobil ada, badan atletis pula. Pasti dia sudah naik kelas sebagai orang kaya. Setidaknya dia dapat membuktikan pada Cik Jenny yang mengiranya sebagai sopir pribadi. Dengan langkah tegap dan mantap Yoyun menuju ke arah kios Cik Jenny. Belum sampai kios, tampak seorang ibu setengah baya yang kerepotan dengan belanjaan di kedua tangannya. Dengan sumringah sang ibu berteriak ke arah Yoyun, "Wah, kebetulan banget. Dik, itu tiga karung beras ibu di kios Cik Jenny angkut ke pick up merah ya!"
#yoyuncomesback
Penulis yang sudah berpartisipasi
Agust Wahyu, Robertus Sutartomo, Genoveva Dian, Albertha Tirta, Bun Siaw Yen, Jenny Seputro, Budi Hantara, Agustinus Warsito, Merry Srifatmadewi, Agnes Kinasih, Waty Sumiaty Halim, Sylvia Marsidi, Ken Agnibaya, Theresia, Agusanna Ernest, Nita Anita, Yosep Yuniarto, Galuh Purwaningdyah, Nunik Tyas, Yanie Wuryandari
Catatan:
Pentigraf atau penagraf ini merupakan cerita lepas judul " Yoyun Comes Back" yang menghadirkan tokoh utama Yoyun, laki-laki sederhana dan lugu dari pinggiran kota Tegal.
Siapa saja boleh menyumbangkan tulisan di sini, tentunya dengan pesan-pesan positif yang menyejukkan.
Pentigraf atau penagraf dapat dikemas dengan sedih, humor, dan sebagainya.
Bagi yang beminat dapat dikirim lewat inboks ke Agust Wahyu jangan lupa paling bawah tulis #yoyuncomesback
Semua karya akan diedit/direvisi penulis bila ada kekurangan dengan beberapa masukan dari Agust Wahyu dan teman-teman sekalian
Bagi Anda yang ingin membaca lengkap pentigraf atau penagraf lepas ini dapat dilihat di https://anggrek-white.blogspot.com/
Salam Literasi
Yoyun Comes Back (39)
#pentigraf_lepas
Yoyun Comes Back (39)
LARIS MANIS
Theresia
Yoyun termangu di depan gerobak sempolnya. Sudah setengah hari menunggu, belum juga ada yang beli. Padahal kiri kanannya laris manis, bahkan ada yang sudah hampir habis dagangannya. Kalau begini terus bisa rugi aku, pikir Yoyun.
Hari ini Yoyun tidak semangat berjualan, kopi yang ada di depannya juga tidak tersentuh. Ia pusing karena modalnya sudah menipis. Poniri, tetangga Yoyun yang berjualan bakso melihat kegalauan Yoyun. Yoyun menceritakan pada Poniri tentang masalah jualannya yang sepi pembeli. Poniri memberi saran pada Yoyun untuk mengubah cara berjualannya agar lain daripada yang lain.
Yoyun tidak yakin dengan saran Poniri, ia ragu-ragu untuk memulainya. Tapi Yoyun harus mencobanya siapa tahu saran Poniri benar dan dagangan Yoyun bisa laris manis. Yoyun bersiap-siap untuk memulai trik dagang baru, tetapi ia malu untuk memulai. Yoyun mengambil napas panjang dan sedikit memejamkan mata untuk menghilangkan rasa berdebarnya. Yup, ia sekarang telah siap menjual sempolnya, "Sempol murah, silahkan beli! Sempol enak, penjualnya cakep seperti Joo Won!"
#yoyuncomesback
Penulis yang sudah berpartisipasi
Agust Wahyu, Robertus Sutartomo, Genoveva Dian, Albertha Tirta, Bun Siaw Yen, Jenny Seputro, Budi Hantara, Agustinus Warsito, Merry Srifatmadewi, Agnes Kinasih, Waty Sumiaty Halim, Sylvia Marsidi, Ken Agnibaya, Theresia, Agusanna Ernest, Nita Anita, Yosep Yuniarto, Galuh Purwaningdyah, Nunik Tyas, Yanie Wuryandari
Yoyun Comes Back (39)
LARIS MANIS
Theresia
Yoyun termangu di depan gerobak sempolnya. Sudah setengah hari menunggu, belum juga ada yang beli. Padahal kiri kanannya laris manis, bahkan ada yang sudah hampir habis dagangannya. Kalau begini terus bisa rugi aku, pikir Yoyun.
Hari ini Yoyun tidak semangat berjualan, kopi yang ada di depannya juga tidak tersentuh. Ia pusing karena modalnya sudah menipis. Poniri, tetangga Yoyun yang berjualan bakso melihat kegalauan Yoyun. Yoyun menceritakan pada Poniri tentang masalah jualannya yang sepi pembeli. Poniri memberi saran pada Yoyun untuk mengubah cara berjualannya agar lain daripada yang lain.
Yoyun tidak yakin dengan saran Poniri, ia ragu-ragu untuk memulainya. Tapi Yoyun harus mencobanya siapa tahu saran Poniri benar dan dagangan Yoyun bisa laris manis. Yoyun bersiap-siap untuk memulai trik dagang baru, tetapi ia malu untuk memulai. Yoyun mengambil napas panjang dan sedikit memejamkan mata untuk menghilangkan rasa berdebarnya. Yup, ia sekarang telah siap menjual sempolnya, "Sempol murah, silahkan beli! Sempol enak, penjualnya cakep seperti Joo Won!"
#yoyuncomesback
Penulis yang sudah berpartisipasi
Agust Wahyu, Robertus Sutartomo, Genoveva Dian, Albertha Tirta, Bun Siaw Yen, Jenny Seputro, Budi Hantara, Agustinus Warsito, Merry Srifatmadewi, Agnes Kinasih, Waty Sumiaty Halim, Sylvia Marsidi, Ken Agnibaya, Theresia, Agusanna Ernest, Nita Anita, Yosep Yuniarto, Galuh Purwaningdyah, Nunik Tyas, Yanie Wuryandari
Catatan:
·
Pentigraf atau penagraf
ini merupakan cerita lepas judul " Yoyun Comes Back" yang menghadirkan
tokoh utama Yoyun, laki-laki sederhana dan lugu dari pinggiran kota Tegal.
·
Siapa saja boleh
menyumbangkan tulisan di sini, tentunya dengan pesan-pesan positif yang
menyejukkan.
·
Pentigraf atau penagraf
dapat dikemas dengan sedih, humor, dan sebagainya.
·
Bagi yang beminat dapat
dikirim lewat inboks ke Agust Wahyu jangan lupa paling bawah tulis
#yoyuncomesback
·
Semua karya akan
diedit/direvisi penulis bila ada kekurangan dengan beberapa masukan dari Agust
Wahyu dan teman-teman sekalian
·
Bagi Anda yang ingin
membaca lengkap pentigraf atau penagraf lepas ini dapat dilihat di https://anggrek-white.blogspot.com/
Salam Literasi
Yoyun Comes Back (41)
#pentigraf_lepas
Yoyun Comes Back (41)
PINTU BELAKANG
Agnes Kinasih
Aku lebih dulu kenal dengan kakaknya, karena kami satu angkatan di bangku kuliah. Karena sering bertemu di gereja akhirnya akupun mengenalnya. Dia aktif sebagai pembina putra altar, sedangkan aku sebagai pembaca kitab suci (lektor). Perkenalan kami hanya sebatas itu. Dan aku pun bertemu dia hanya saat mendapat giliran tugas. Selebihnya tidak ada yang istimewa.
Rumahnya di dekat gereja. Tepatnya Gang Cemara 1 no 12. Sebuah gang yang kulewati setiap aku berangkat dan pulang misa pagi. Semenjak kami sering dipertemukan dalam satu tugas, dia selalu tampak menunggu aku pulang dari misa. Pukul 06.15, kurang lebih pada jam itu aku selalu lewat di depan rumahnya. Misa pagi selesai pukul 06.00, dan seperti biasa aku melihatnya seolah-olah menyibukkan diri dengan tanaman di halaman rumahnya. Dia hanya tersenyum kecil padaku. Aku membalas seperlunya. Hari itu lain dari biasanya. Yoyun menungguku di luar pagar rumahnya. Dan ketika aku tiba, dia menyapaku dan menanyakan apakah dia boleh bertandang di rumahku. Tentu saja kupersilahkan dengan senang hati, karena rumahku sering jadi base camp teman-teman jadi kupikir tentu menyenangkan jika dia bergabung. Kusanpaikan padanya kutunggu kedatangannya. Kebetulan nanti malam teman-teman mau berkumpul. Ya, setiap sabtu malam minggu kami selalu berkumpul untuk berdiskusi tentang apa saja atau bermain gitar.
Kudengar suara motor berhenti. Ternyata Yoyun. Kupersilahkan masuk. Kami mengobrol hal-hal ringan seputar gereja. Terasa kaku sih, tapi kucoba memasukkan candaan-candaan supaya suasana cair. Tak kusangka ternyata Yoyun orangnya sedikit kuper. Tapi biarlah, mungkin nanti jika sudah bertemu teman-temanku dia akan berubah. Aku ingin mereka segera datang, karena obrolan dengan Yoyun terasa datar nggak asik. Tak berapa lama bunyi pintu pagar di buka, Seno yang biasa kupanggil kepala suku datang, disusul Carolus dan Adri. Yoyun yang tadinya anteng kelihatan gelisah. Dia menanyakan apakah ada pintu belakang? Aku heran dengan sikapnya ini. Dan kutanya ada apa, dia bilang akan pulang saja. Karena kelihatan serius, dia kuantar ke pintu belakang. Sambil berpamitan dia bilang tidak akan datang lagi karena ternyata pacarku banyak. Aku melongo mendengar ucapannya itu dan tak tahan menahan tawa begitu dia lenyap dari pandanganku. Yoyun... Yoyun... tak kusangka kau begitu kuper. Hahahaha... perutku kaku menahan tawa. Rupanya dia merasa jiper dengan kedatangan Seno Carolus dan Adri. Poor Yoyun....
#yoyuncomesback
Penulis yang sudah berpartisipasi
Agust Wahyu, Robertus Sutartomo, Genoveva Dian, Albertha Tirta, Bun Siaw Yen, Jenny Seputro, Budi Hantara, Agustinus Warsito, Merry Srifatmadewi, Agnes Kinasih, Waty Sumiaty Halim, Sylvia Marsidi, Ken Agnibaya, Theresia, Agusanna Ernest, Nita Anita, Yosep Yuniarto, Galuh Purwaningdyah, Nunik Tyas, Yanie Wuryandari
Yoyun Comes Back (41)
PINTU BELAKANG
Agnes Kinasih
Aku lebih dulu kenal dengan kakaknya, karena kami satu angkatan di bangku kuliah. Karena sering bertemu di gereja akhirnya akupun mengenalnya. Dia aktif sebagai pembina putra altar, sedangkan aku sebagai pembaca kitab suci (lektor). Perkenalan kami hanya sebatas itu. Dan aku pun bertemu dia hanya saat mendapat giliran tugas. Selebihnya tidak ada yang istimewa.
Rumahnya di dekat gereja. Tepatnya Gang Cemara 1 no 12. Sebuah gang yang kulewati setiap aku berangkat dan pulang misa pagi. Semenjak kami sering dipertemukan dalam satu tugas, dia selalu tampak menunggu aku pulang dari misa. Pukul 06.15, kurang lebih pada jam itu aku selalu lewat di depan rumahnya. Misa pagi selesai pukul 06.00, dan seperti biasa aku melihatnya seolah-olah menyibukkan diri dengan tanaman di halaman rumahnya. Dia hanya tersenyum kecil padaku. Aku membalas seperlunya. Hari itu lain dari biasanya. Yoyun menungguku di luar pagar rumahnya. Dan ketika aku tiba, dia menyapaku dan menanyakan apakah dia boleh bertandang di rumahku. Tentu saja kupersilahkan dengan senang hati, karena rumahku sering jadi base camp teman-teman jadi kupikir tentu menyenangkan jika dia bergabung. Kusanpaikan padanya kutunggu kedatangannya. Kebetulan nanti malam teman-teman mau berkumpul. Ya, setiap sabtu malam minggu kami selalu berkumpul untuk berdiskusi tentang apa saja atau bermain gitar.
Kudengar suara motor berhenti. Ternyata Yoyun. Kupersilahkan masuk. Kami mengobrol hal-hal ringan seputar gereja. Terasa kaku sih, tapi kucoba memasukkan candaan-candaan supaya suasana cair. Tak kusangka ternyata Yoyun orangnya sedikit kuper. Tapi biarlah, mungkin nanti jika sudah bertemu teman-temanku dia akan berubah. Aku ingin mereka segera datang, karena obrolan dengan Yoyun terasa datar nggak asik. Tak berapa lama bunyi pintu pagar di buka, Seno yang biasa kupanggil kepala suku datang, disusul Carolus dan Adri. Yoyun yang tadinya anteng kelihatan gelisah. Dia menanyakan apakah ada pintu belakang? Aku heran dengan sikapnya ini. Dan kutanya ada apa, dia bilang akan pulang saja. Karena kelihatan serius, dia kuantar ke pintu belakang. Sambil berpamitan dia bilang tidak akan datang lagi karena ternyata pacarku banyak. Aku melongo mendengar ucapannya itu dan tak tahan menahan tawa begitu dia lenyap dari pandanganku. Yoyun... Yoyun... tak kusangka kau begitu kuper. Hahahaha... perutku kaku menahan tawa. Rupanya dia merasa jiper dengan kedatangan Seno Carolus dan Adri. Poor Yoyun....
#yoyuncomesback
Penulis yang sudah berpartisipasi
Agust Wahyu, Robertus Sutartomo, Genoveva Dian, Albertha Tirta, Bun Siaw Yen, Jenny Seputro, Budi Hantara, Agustinus Warsito, Merry Srifatmadewi, Agnes Kinasih, Waty Sumiaty Halim, Sylvia Marsidi, Ken Agnibaya, Theresia, Agusanna Ernest, Nita Anita, Yosep Yuniarto, Galuh Purwaningdyah, Nunik Tyas, Yanie Wuryandari
Catatan:
• Pentigraf atau penagraf ini merupakan cerita lepas judul " Yoyun Comes Back" yang menghadirkan tokoh utama Yoyun, laki-laki sederhana dan lugu dari pinggiran kota Tegal.
• Siapa saja boleh menyumbangkan tulisan di sini, tentunya dengan pesan-pesan positif yang menyejukkan.
• Pentigraf atau penagraf dapat dikemas dengan sedih, humor, dan sebagainya.
• Bagi yang beminat dapat dikirim lewat inboks ke Agust Wahyu jangan lupa paling bawah tulis #yoyuncomesback
• Semua karya akan diedit/direvisi penulis bila ada kekurangan dengan beberapa masukan dari Agust Wahyu dan teman-teman sekalian
Langganan:
Postingan (Atom)




